Barzahcomputerinternet’s Blog

Kalimat efektif

Posted on: Maret 28, 2009

KALIMAT EFEKTIF

Sebuah kalimat yang efektif mempersoalkan bagaimana ia dapat mewakili secara tepat isi pikiran atau perasaan pengarang, bagaimana ia dapat mewakilinya secara segar, dan sanggup menarik perhatian pembaca dan pendengar terhadap apa yang dibicarakan. Kalimat yang efektif memiliki kemampuan atau tenaga untuk menimbulkan kembali gagasan-gagasan pada pikiran pendengar atau pembaca identik dengan apa yang dipikirkan pembicara atau penulis. Di samping itu kalimat yang efektif selalu tetap berusaha agar gagasan pokok selalu mendapat tekanan atau penonjolan dalam pikiran pembaca atau pendengar.
Kalimat efektif adalah kalimat yang memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :
1. Secara tepat dapat mewakili gagasan atau perasaan pembicara atau penulis.
2. Sanggup menimbulkan gagasan yang sama tepatnya dalam pikiran pendengar atau pembaca seperti yang dipikirkan pembicara atau penulis.
Bila ke dua syarat ini dipenuhi maka tidak mungkin akan terjadji salah paham antara mereka yang terlibat dalam komunikasi.
Syarat-syarat lain untuk dapat menciptakan kalimat yang efektif adalah sebagai berikut :

1. Kesatuan Gagasan
Setiap kalimat yang baik harus jelas memperlihatkan kesatuan gagasan, mengandung satu ide pokok. Dalam laju kalimat tidak boleh diadakan perubahan dari satu kesatuan gagasan kepada kesatuan gagasan yang lain yang tidak ada hubungan, atau menggabungkan dua kesatuan yang tidak mempunyai hubungan sama sekali. Bila dua kesatuan yang tidak mempunyai hubungan, maka akan rusak kesatuan pikiran itu.
Kesatuan gagasan janganlah pula diartikan bahwa hanya terdapat suatu ide unggal. Bila terjadi bahwa kesatuan gagasan itu terbentuk dari dua gagasan pokok atau lebih. Secara praktis sebuah kesatuan gagasan mewakili oleh subyek, predikat  obyek. Kesatuan yang diwakili subyek, predikat dan  obyek itu dapat berbentuk dapat berbentuk kesatuan gagasan, kesatuan hubungan, kesatuan pilihan, dan kesatuan yang mengandung pertentangan.
Contoh-contoh berikut dapat menjelaskan kesatuan gagasan tersebut, baik kesatuan yang terpadu, maupun kesatuan yang tidak padu.
a. Yang jelas kesatuan gagasannya.
 Kita bisa merasakan dalam kehidupan sehari-hari, betapa emosi itu sering kali merupakan tenaga pendorong yang amat kuat dalam tindak kehidupan kita. (kesatuan tunggal).
 Semua penduduk desa itu mendapat penjelasan mengenai rencana pembangunan lima tahun. (Kesatuan tunggal)
 Pada saat seorang sarjana harus merumuskan konsep-konsep menjadi istilah, dengan perkataan lain pada saat itu ia harus membentuk istilah, kadang-kadang terasa adanya kesulitan. (Kesatuan tunggal)
 Pimpinan perguruan tinggi sadar bahwa pelayanan kulikuler itu akan berhasil baik bila penyempurnaan sistem perkuliahaan perpustakaan, laboratorium, peralatan, gedung dan administrasi. (Kesatuan tunggal)
 Dia telah meninggalkan rumahnya jam enam pagi, dan telah berangkat dengan pesawat satu jam yang lalu. (Kesatuan tunggal)
 Ayah bekerja di perusahaan pengangkutan itu, tetapi ia tidak senang dengan pekerjaan itu. (Kesatuan gabungan)
 Kamu boleh menyusul saya ke tempat itu, atau tinggal saja di sini. (Kesatuan pilihan)
b. Yang tidak jelas kesatuan gagasannya.
Hal-hal yang menyebabkan kesatuan gagasan menjadi tidak jelas:
 Kedudukan subyek atau predikat tidak jelas.
 Salah dalam menggunakan kata depan.
 Kalimatnya terlalu panjang sehingga penulis atau pembicara sendiri tidak tahu apa sebenarnya yang mau di katakan.

Contoh-contohnya:
 Didaerah-daerah sudah mempunyai lembaga bahasa.
 Di dalam pendidik sudah mempunyai bahasa sebagai alat komukasi antara anak didik dan pendidik.
 Dalam pendidikan juga sangat berhubungan erat kepada bahasa
 Dirumah-rumah sakit penuh sesak penderita-penderita atom yang belum mati.
 Dengan adanya kenakalan anak-anak yang kadang-kadang sudah merupakan perbuatan kriminal memerlukan perhatian yang cukup serius dari alat-alat negara.
 Di Bali sekarang ini terkenal dengan patung-patung yang bercorak sangat primitif.
 Kebutuhan akan makan oleh manusia tidak dapat menunggu sampai hari esok.
 Menanggapi tulisan suadara pada harian Kompas hari Kamis 27 Maret 1975 pada halaman IV kolom redaksi Yth. Mengenai TVRI Palembang yang isinya mengungkapkan perasaan tidak puas, mual dan jengkel terhadap acara-acara produksi TVRI Palembang, dengan tulisannya antara lain dalam menampilkan acara TVRI Palembang tidak terlebih dahulu menganalisa acara-acara yang di produksinya sendiri itu. Asal jadi saja.
 Terhadap orang yang lebih tinggi umurnya dan atau kedudukannya berbeda caranya.
 Penetapan bahasa kesatuan kita, sangat mudah; pada mana, masa-masa perjuangan, di mana rakyat Indonesia, yang tersebar dari Sabang sampai Merauke, yang senasib, seperjuangan serta satu cita-cita, maka karena kesadaran tadi, disertai pemikiran, maka rakyat Indonesia menetapkan bahasa nasional tersebut sebagai bahasa kesatuan.

2. Koherensi yang Baik dan Kompak
Yang dimaksud dengan koherensi atau kepaduan yang baik dan kompak adalah hubungan timbal balik yang baik dan jelas antara unsur-unsur (kata/ kelompok kata) yang membentuk kalimat itu. Bagaimana hubungan antara subjek dan predikat, hubungan antara predikat dan objek, serta keterangan-keterangan lain yang menjelaskan tiap-tiap unsur pokok tadi.
Setiap bahasa memiliki kaidah-kaidah tersendiri bagaimana mengurutkan gagasan-gagasan tersebut. Ada bagian-bagian kalimat yang memiliki hubungan yang lebih yang erat sehingga tidak boleh dipisahkan, ada yang lebih rendah kedudukannya sehingga boleh ditempatkan dimana saja, asal jangan disisipkan antara kata-kata atau kelompok kata yang rapat hubungannya. Kesalahan yang juga seringkali merusakan koherensi adalah menempatkan kata depan, kata penghubung yang tidak sesuai atau tidak pada tempatnya, penempatan keterangan aspek yang tidak sesuai dan sebagainya.
Bilamana gagasan yang tidak berhubungan satu sama lain disatukan, maka selain merusak kesatuan, pikiran, juga akan merusak koherensi kalimat yang bersangkutan. Dalam kesatuan pikiran lebih ditekankan adanya isi pikiran, sedangkan dalam koherensi lebih ditekankan segi struktur, atau interrelasi antara kata-kata yang menduduki sebuah tugas dalam kalimat. Seperti itu bisa terjadi bahwa sebuah kalimat dapat mengandung sebuah kesatuan pikiran, namun koherensinya tidak baik.
a. Koherensi rusak karena tempat kata dalam kalimat tidak sesuai dengan pola kalimat.
Contoh :
 Adik saya yang paling kecil memukul Anjing dikebun kemarin pagi, dengan sekuat tenaganya. (koherensi baik)
 Adik saya yang paling kecil memukul dengan sekuat tenaganya kemarin pagi di kebun Anjing. (Koherensi tidak baik)
 Anjing kemarin pagi dikebun Adik saya memukul dengan sekuat tenaga. (Koherensi tidak baik)

b. Kepaduan sebuah kalimat akan rusak pula karena salah dipergunakan kata depan, kata penghubung, dan sebagainya.
Contoh :
 Interaksi antara perkembangan kepribadian dan perkembangan penguasaan bahasa menentukan bagi pola kepribadian yang sedang berkembang (tanpa kata bagi)
 Sejak lahir manusia memiliki jiwa untuk melawan kepada kekejaman alam, atau kepada pihak lain karena merasa dirinya lebih kuat (tanpa kata kepada)
 Walaupun segi kepariwisataan telah memberi lapangan kerja kepada penduduk Bali dan telah mendorong pada sektor seni lukis, seni pahat dan kerajinan lainnya, namun kita mulai merasakan aspek-aspek negatif daripada perkembangan ini. (tanpa kata pada, sedangkan kata-kata daripada sebaiknya diganti dengan kata dari)
Contoh lian :
No. Benar Salah
1

2

3

4

5
Membahayakan negara Berbahaya bagi negara
Membicarakan suatu masalah
Berbicara tentang suatu masalah
Mengharapkan belas kasihan
Berharap akan belas kasihan
Menceritakan peristiwa itu
Bercerita tentang peristiwa itu
Saling membantu
Bantu-membantu Membahayakan bagi negara

Membicarakan tentang suatu ….

Mengharapkan akan belas kasihan

Menceritakan akan peristiwa itu

Saling bantu-membantu

c. Kesalahan lain yang dapat merusak koherensi adalah pemakaian kata, baik karena merangkaikan dua kata yang maknanya tidak tumpang tindih, atau hakikatnya mengandung kontra diksi.
Contoh :
 Banyak para peninjau yang menyatakan bahwa perang yang sedang berlangsung itu merupakan perang Dunia di Timur Tengah. (atau banyak peninjau atau para peninjau; makna banyak dan para tidak tumpang tindih).
 Sampai tahun 1952 banyak penjahat-penjahat perang Jerman yang dilepaskan dan diampuni dosanya. (banyak penjahat)
 Demi untuk kepentingan saudara sendirim saudara dilarang merokok. (demi kepentingan atau untuk kepentingan)
 Sering kita membuat suatu kesalahan-kesalahan yang tidak kita sadari (suatu kesalahan atau kesalahan-kesalahan)
d. Suatu kesalahan yang lain yang sering dilakukan hubungan dengan persoalan kehorensi atau kepaduan kalimat adalah salah menempatkan keterangan aspek (sudah, telah, akan, belum dan sebagainya) pada kata kerja tanggap.
Contoh :
 Saya sudah membaca buku ini hingga tamat (baik)
 Sudah saya baca buku ini hingga tamat (baik)
 Saya sudah baca buku ini hingga tamat (kurang baik, bahasa percakapan)
 Buku itu saya sudah baca hingga tamat (salah)
 Buku itu sudah saya baca hingga tamat (baik)

3. Penekanan
Inti pemikiran terkandung dalam tiap kalimat (gagasan utama) haruslah dibedakan dari sebuah kata yang dipentingkan. Gagasan utama kalimat tetap didukung oleh subyek, dan predikat dan unsur yang dipentingkan dapat bergeser dari satu kata ke kata yang lain. Kata yang dipentingkan harus mendapat tekanan atau harus lebih ditonjolkan dari unsur-unsur yang lain. Dalam bahasa lisan kita dapat mempergunakan tekanan, gerak-gerik dan sebagainya untuk memberi tekanan pada sebuah kata. Dalam bahasa tulisan hal itu tidak mungkin dilakukan. Namun masih terdapat beberapa cara yang dapat dipergunakan untuk memberi penekanan itu, baik dalam bahasa lisan maupun dalam bahasa tulisan. Cara-cara tersebut antara lain :
a. Merubah-rubah posisi dalam kalimat
Sebagai prinsip dapat dikatakan bahwa semua kata yang ditempatkan pada awal kalimat adalah kata yang dipentingkan. Berdasarkan prinsip tersebut, untuk mencapai efek yang diinginkan sebuah kalimat dapat berubah-rubah strukturnya dengan menempatkan sebuah kata yang dipentingkan pada awal kalimat.
Contoh :
 Kami berharap pada kesempatan lain kita dapat membicarakan lagi soal ini.
Contoh kalimat diatas menunjukkan bahwa kata yang dipentingkan adalah kami (berharap), bukan yang lain-lain. Disamping kami kita juga dapat memberi penekanan pada kata-kata lainnya, seperti harap, pada kesempatan lain, kita, soal ini. Kata-kata tersebut dapat ditempatkan pada awal kalimat, dengan konsekuensi bahwa kalimat di atas bisa mengalami perubahan strukturnya, asal isinya tidak berubah.
Contoh :
 Harapan kami adalah agar soal ini dapat kita bicarakan lagi pada kesempatan lagi.
 Pada kesempatan lain kami berharap kita dapat dibicarakan lagi soal ini.
 Kita dapat membicarakan lagi soal ini pada kesempatan lain, demikian harapan kami.
 Soal ini dapat kita bicarakan pada kesempatan lain, demikian harapan kami.

b. Mempergunakan Repetisi
Repetisi adalah pengulangan sebuah kata yang dianggap penting dalam sebuah kalimat.
Contoh :
 Harapan kita demikianlah dan demikian pula harapan setiap pejuang
 Kemajuan menyangkut kemajuan di segala bidang, kemajuan kesadaran politik, kesadaran bermasyarakat, kesadaran berekonomi, kesadaran berkebudayaan, dan kesadaran beragama.
 Memang, dalam penglihatan saya, bahasa Indonesia merupakan suatu alat, yaitu alat untuk komunikasi. Dalam hubungan antara suami isteri, antara orang tua dan anak, antara komandan dan anak buah, antara guru dan murid, antara pemerintah dan rakyat, antara sesama warta masyarakat, pastilah diperlukan bahasa sebagai alat komunikasi.

c. Pertentangan
Pertentangan dapat pula dipergunakan untuk menekan suatu gagasan. Kita bisa saja mengatakan secara langsung hal-hal berikut dengan konsekuensi bahwa tidak terdapat penekanan :
Contoh :
 Anak itu rajin dan jujur
 Ia menghendaki perbaikan yang menyeluruh di perusahaan itu.
Agar kata rajin dan jujur serta menghendaki perbaikan yang menyeluruh dapat lebih ditonjolkan, maka kedua gagasan itu ditempatkan dengan suatu posisi pertentangan, misalnya :
 Anak itu tidak malas dan curang, tetapi rajin dan jujur.
 Ia tidak menghendaki perbaikan yang bersifat tambal sulam, tetapi perbaikan yang menyeluruh di perusahaan itu.
Contoh lain :
 Kita tidak menghendaki sastra yang merupakan pidato kecap yang berisi propaganda politik tertentu. Tetapi kita tidak pula menghendaki sastra yang tanpa konsepsi. Yang kita kehendaki adalah sastra yang dihendaki oleh rakyat, yakni sastra yang benar-benar bertumpu pada problematik rakyat sendiri, yang berjiwa Pancasila dan melaksanakan Amanat Penderitaan Rakyat.
Sebenarnya yang ingin disampaikan adalah amanat dalam kalimat terakhir. Namun supaya amanat itu lebih ditonjolkan maka diperlukan dua kalimat yang mengandung pertentangan.

d. Partikel Penekanan
Dalam bahasa Indonesia terdapat beberapa partikel yang berfungsi untuk menonjolkan sebuah kata atau ide dalam sebuah kalimat. Partikel-partikel yang dimaksud adalah : lah, pun, kah yang oleh kebanyakan tata bahasa disebut imbuhan.
Contoh :
 Saudaralah yang harus bertanggung jawab dalam soal itu.
 Bapaklah yang harus terlebih dahulu memberi contoh.
 Ia pun mencoba mendekatkan kedua belah pihak dalam suatu perundingan.
 Kamu pun turut dalam kegiatan itu.
 Rakyatlah yang harus menanggung akibat kotoran dalam permainan manipulasi uang rakyat itu ?
 Benarkan seperti apa yang dikatakan itu ?
 Tolonglah dia, pasti ia segera selesai.

4. Variasi
Variasi merupakan suatu upaya yang bertolak belakang dengan repetisi. Repetii atau pengulangan sebuah kata untuk memperoleh efek penekanan, lebih banyaj menekankan kesamaan bentuk.
Pemakaian bentuk yang sama secara berlebihan akan menggambarkan selera pendengar atau pembaca. Sebab itu ada upaya lain yang bekerja berlawanan dengan repetisi yaitu variasi. Variasi tidak lain daripada menganekaragamkan bentuk-bentuk bahasa agar tetap terpelihara minat dan perhatian orang.
Variasi dalam kalimat dapat diperoleh dengan beberapa yang macam cara, yaitu :
a. Variasi sinonim kata
Variasi berupa sinonim kata, atau penjelasan-penjelasan yang berbentuk kelompok kata pada hakekatnya tidak berubah isi dari amanat yang akan disampaikan.
Contoh :
 Dari renungan itulah penyair menemukan suatu makna, suatu realitas yang baru, suatu kebenaran yang menjadi ide sentral yang menjiwai seluruh puisi.
 Seribu puspa ditanam bunga seribu wangi menyegar cita.
Pengertian makna, realitas yang baru dan kebenaran merupakan hal uang sama diperoleh penyair dalam renungan itu.

b. Variasi panjang pendeknya kalimat
Variasi dalam panjang pendeknya struktur dalam kalimat dan mencerminkan dengan jelas pikiran pengarang, serta pilihan yang tepat dari struktur panjangnya sebuah kalimat dapat memberi tekanan pada bagian-bagian yang diinginkan. Bila kita menghadapi kalimat atau rangkaian kalimat panjang yang identik strukturnya, maka itu merupakan pertanda bahwa kalimat tersebut kurang baik digarap, serta pikiran pengarang sendiri tidak jelas.
Perhatikan variasi panjang pendeknya kalimat dalam contoh berikut :
 Saudara J.U. Nasution memberikan alasan untuk menolak sajak tersebut dengan mengutarakan bahwa puisi itu tidak mengikuti logika puisi, pada malam lebaran tidak ada bulan. Sebenarnya tidak perlu kita bawa logika puisi untuk menolak puisi tersebut. Penciptaan puisi memang bukanlah hanya dapat melambangkan banyak hal. Tetapi pernyataan itu juga harus intensif, yang dengan sendirinya dapat menimbulkan kesan kepada pembaca, dan kesan timbul bukan karena peneliti pernah mengalami hal yang sama atau mengetahui jiwa penyair atau situasi penyair waktu menciptakan sajak itu. dari segi syarat-syarat tema juga sudah terang sajak itu bukanlah puisi yang baik. Dia juga harus memberi sesuatu kepada manusia dan yang diberikan itu haruslah sesuatu yang berharga.
Bila kita perinci contoh fragmen di atas maka kalimat pertama mengandung 23 kata (nama orang dihitung satu kata). Sedangkan kalimat-kalimat selanjutnya berturut-turut dari : 11 kata, 9 kata, 37 kata, 15 kata dan 16 kata. Ternyata fragmen ini tidak membosankan, karena cukup mengandung variasi.

c. Variasi penggunaan bentuk me-dan di-
Pemakaian bentuk gramatikal yang sama dalam beberapa kalimat berturut-turut juga dapat menimbulkan kelesuan. Sebab itu haruslah dicari variasi pemakaian bentuk gramatikal, terutama dalam mempergunakan bentuk-bentuk kata kerja yang mengandung prefiks me-dan di-.
Seorang ahli Inggris yang duduk dalam team penelitian dan pengembangan pelabuhan-pelabuhan di Indonesia pernah mengemukakan bahwa di daerah-daerah yang luas, tetapi tipis penduduknya serta kurang aktivitas ekonominya. Seyogyanya pemerintah tidak membangun pelabuhan samudra. Numn pemerintah tidak memutuskan demikian.
Memang cukup mengendorkan semangat kalau kita melihat keadaan di Nusa Tenggara (tidak termasuk Bali dan Lombok) yang tetap “tidur nyenyak” meskipun pemerintah sudah membangun banyak fasilitas pengangkutan laut serta udara.
Kutipan di atas akan dirasakan lain kalau dibuat variasi seperti di bawah ini :
Seorang ahli Inggris yang duduk dalam team penelitian dan pembangunan pelabuhan-pelabuhan di Indonesia pernah mengemukakan bahwa di daerah-daerah yang luas, tetapi tipis penduduknya serta kurang aktivitas ekonominya, seyogyanya tidak dibangun pelabuhan samudra. Namun pemerintah tidak memutuskan demikian. Memang cukup mengendorkan semangat kalau kita melihat keadaan di Nusa Tenggaraa (tidak termasuk Bali dan Lombok) yang tetap “tidur nyenyak” meskipun fasilitas-fasilias pengangkutan laut dan udara sudah banyak dibangun.

d. Variasi dengan merubah posisi dalam kalimat
Variasi dengan mengubah posisi dalam kalimat sebenarnya mempunyai sangkut paut juga dengan penekanan dalam kalimat.
Bagaiama kita membuat variasi kalimat berikut dengan memberi tekanan pada kata-kata yang terdapat dalam kurung :
Di bidang angkutan udara MNA mempergunakan pesawat Twin Otter yang harganya tiga kali lebih mahal dari haraga Fakota, karena beberapa keunggulannya. (pergunakan, MNA; pesawat tipe Twin Otter, harganya tiga kali lebih mahal; karena beberapa keunggulannya).
Pelaksanaan bantuan hukum di negara kita, yang dilaksanakan atas dasar peraturan peninggalan zaman penjajahan dahulu sufatnya sangat terbatas (di negara kita; peraturan peninggalan zaman penjajahan; sifat yang sangat terbatas).

5. Paralelisme
Bila variasi stuktur kalimat merupakan suatu alat yang baik untuk menonjolkan gagasan sentral, maka paralelisme juga menempatkan gagasan-gagasan yang sama penting dan sama fungsinya ke dalam suatu struktur/ konstruksi gramatikal yang sama. Bila salah satu dari gagasan itu di tempatkan dalam struktur kata benda, maka kata-kata atau kelompok-kelompok kata yang lain yang menduduki fungsi yang sama harus juga ditempatkan dalam struktur kata benda; bila yang satunya ditempatkan dalam kata kerja, maka yang lain-lainnya juga harus ditempatkan dalam struktur kata kerja.
Paralelisme atau kesejajaran bentuk membantu memberi kejelasan dalam unsur gramatikal dengan mempertahankan bagian-bagian yang sederajat dalam konstruksi yang sama.
Contoh :
Perhatikan kutipan berikut :
“Apabila pelaksanaan pembangunan lima tahun kita jadikan titik-tolak, maka menonjollah bebarapa masalah pokok yang minta perhatian dan pemecahan. Reorganisasi administrasi departemen-departemen. Ini yang pertama. masalah pokok yang lain yang menonjol adalah pemborosan dan penyelewengan. Ke tiga karean masalah pembangunan ekonomi yang kita jadikan titik tolak, maka kita ingin juga mengemukakan faktor lain. Yaitu bagaimana mobilisir potensi nasional secara maksimal dalam partisipasi pembangunan ini” (kompas)
bila kita perhatikan kutipan di atas maka tampak bahwa reorganisasi adminstrasi, pemborosan dan penyelewengan serta mobilasasi potensi nasional merupakan masalah pokok yang mempunyai hubungan satu sama lain. Dengan mempergunakan konstruksi yang paralel ketiganya dapat dihubungkan secara mesra, serta akan memberi tekanan yang lebih jelas pada ketiga-ketiganya.
Contoh :
 Reorganisasi administrasi departemen-departemen, penghentian pemborosan dan penyelewengan-penyelewengan serta mobilisasi potensi-potensi nasional, merupakan masalah-masalah pokok yang meminta perhatian kita. (semuanya kata benda) (baik).
 Mengorganisir administrasi departemen-departemen; menghentikan pemborosan pemborosan mobilisasi potensi-potensi nasional, merupakan masalah-masalah, merupakan masalah-masalah pokok yang meminta perhatian pemerintah kita. (semuanya kata kerja) (baik).
 Reorganisasi administrasi departemen-departemen menghentikan pemborosan dan penyelewengan-penyelewengan, serta mobilisir potensi-potensi nasional, merupakan masalah-masalah pokok yang meminta perhatian kita (salah).
 Tahap terakhir dari penyelesaian gedung itu adalah : pengecatan seluruh temboknya, pemasaran penerangan, pengujian sistem pembagian air, dan pengaturan tata ruangnya (atau mengecat …,memasang…,menguji…., mengatur……..,) (baik)
 Tahap terakhir dari penyelesaian gedung itu adalah : pengecatan seluruh temboknya, memasang penerangan, pengujian sistem pembagian air, dan pengaturan tata ruangnya. (salah)

6. Penalaran atau logika
Struktur gramatikal yang baik bukan merupakan tujuan dalam komunikasi, tetapi sekedar merupakan suatu alat untuk merangkaikan sebuah pikiran atau maksud dengan sejelas-jelasnya. Disamping itu dalam kehidupan sehari-hari kita mengalami kenyataan-kenyataan yang menunjukkan bahwa da anggota masyarakat yang dapat mengungkapkan pendapat dan isi pikirannya dengan teratur, tanpa mempelajari secara khusus struktur gramatikal suatu bahasa. Berarti ada unsur yang harus diperhitungkan dalam pemakaian suatu bahasa. Unsur lain ini adalah segi penalaran atau logika. Jalan pikiran pembicara turut menentukan baik tidaknya kalimat seseorang, mudah tidaknya pikiran dapat dipahami.
Yang dimaksud dengan jalan pikiran adalah suatu proses berpikir yang berusaha untuk menghubung-hubungkan evidensi-evidensi menuju kepada suatu kesimpulan yang masuk akal. Ini berarti kalimat-kalimat yang diucapkan harus bisa dipertanggung jawabkan dari segi akal yang sehat atau singkatnya harus sesuai dengan penalaran. Bahasa tidak bisa lepas dari penalaran.
Tulisan-tulisan yang jelas dan terarah merupakan perwujudan daripada berpikir logis. Perhatikan kalimat-kalimat berikut. Tiap bagian kalimat atau klausa dapat dimengerti, namun penyatuannya menimbulkan hal yang tidak bisa atau sulit diterima akal :
Contoh :
 Orang itu mengerjakan sawah ladangnya dengan sekuat tenaga karena mahasiswa-mahasiswa Indonesia harus menggarap suatu karya ilmiah sebelum dinyatakan lulus dari suatu perguruan tinggi.
 Dia mengatakan pada saya bahwa ia telah lulus, tetapi anjing itu tidak mau mengikuti perintah pemburu itu.

Untuk membreikan suatu uraian tentang hubungan bahasa dan logika, dan untuk menjamin agar kalimat-kalimat tidak bertentangan dengan segi penalaran pada umumnya, maka di bawah ini secara singkat akan diuraikan beberapa hal dasar tentang proses berpikir logis itu.
a. Defisisi (batasan)
Definisi atau batasan yang tepat merupakan kunci dari berpikir yang logis, dan dengan demikian juga menjadi ciri-ciri menulis yang logis. Tiap pembaca ingin mengetahui bagaimana batasan arti dari suatu istilah sebelum ia melangkah lebih jauh untuk memahami maknanya. Tidak adanya kesepakatan mengenai arti dari suatu hal, biasanya menimbulkan salah paham. Sebab itu setiap istilah atau kata harus mengandung pengertian yang sama bagi siapapun. Untuk itu perlu diberikan batasan yang jelas dan tepat untuk setiap istilah, sehingga tulisan itu akan mendapat landasan yang kuat dan tak dapat dibantah.

Beberapa definisi yang dikenal adalah :
(1) Definisi berupa yang dikenal adalah :
Definisi berupa sinonim kata adalah pembatasan pengertian sebuah kata dengan memberikan sinonim atau kata-kata yang bersamaan artinya dengan kata yang akan dijelaskan. Misalnya kita membatasi pengertian pendidikan dengan pengajaran, dan pengertian kemerdekaan dengan kebebasan. Walaupun batasan ii tidak terlalu memberi hasil yang memuaskan, namun dalam banyak hal, terutama untuk tujuan praktis, sangat menolong, terutama mengenai istilah-istilah teknis atau istilah yang masih kurang dikenal.
(2) Definisi berdasarkan etimologi
Definisi berupa etimologi (asal-usul kata) adalah suatu variasi lain dari definisi di atas yang berusaha membatasi pengertian sebuah kata dengan mengikuti jejak etimologi dan arti yang asli hingga arti yang sekarang. Tujuan definisi ini adalah usaha untuk menunjukkan bahwa istilah itu tidak hanya mengandung pengertian yang sekarang saja. Misalnya :
Referendum : referendum berasal dari kata latin re + ferre yang berarti “membawa kembali”. Referendum berarti sesuatu yang harus dibawa kembali, hal yang harus diajukan kembali (untuk dipertimbangkan, disetujui dan sebagainya).
Sebagai istilah politik kata ini berarti : hal mengajukan sesuatu persoalanb secara langsung kepada para pemilih (= rakyat yang mempunyai hak pilih) dengan maksud mengetahui pendapat mereka sehubungan dengan sesuatu undang-undang yang diusulkan. Yang mengajukan sesuatu persoalan itu ialah penguasa; secara langsung kepada pemilih (= rakyat yang mempunyai hak pilih) berarti bahwa persoalan itu tidak diajukan kepada wakil-wakil rakyat di parlemen yang dipilih oleh rakyat, tetapi langsung kepada rakyat sendiri (kompas, 3-12-69)
Bahaya : berasal dari kata sansekerta bhaya, n. yang berarti ketakutan, kedahsyatan, kecemasan; sesuatu yang mendatangkan bencana, kecelakaan, kesengsaraan, dan sebagainya. Kata bhaya sendiri lebih jauh berakar pada kata kerja bhi yang berarti takut. Pada waktu kata bhaya diterima dalam bahasa melayu, terjadilah penyisipan bunyi /a/ antara /b/ dan /h/ sehingga menjadi kata bahaya. Gejala semacam ini tampak pula pada kata : bahasa (dari sansekerta :bhasa f.), bahagia (dari kata sansekerta bhagya a), dan sebagainya.
Kedua macam definisi di atas (yaitu definisi sinonum kata dan definisi berdasarkan etimologi kata) bersifat nominal.
(3) Definisi formal atau riil, atau disebut juga definisi logis.
Logika merupakan dasar bagi semua definisi yang tepat dan cermat. Definisi formal (riil atau definisi logis) adalah suatu cara untuk membatasi pengertian suatu istilah dengan membedakan genusnya dan mengadakan diferensiasinya. Dengan demikian bila kita menyebut kata definisi, maka yang pertama-tama dimaksud adalah pengertian definisi ini. Definisi inilah yang bertolak dari prinsip-prinsip nalar.
Karena definisi formal merupakan usaha memberi pengertian dengan membedakan genus dan menyebut deferensiasi suatu kata, maka pertama-pata sebuah kata harus ditempatkan dalam kelasnya atau genusnya. Proses ini disebut klasifikasi. Semakin sempit kelas yang dimasuki suatu benda atau hal, semakin baik definisi kata itu.
Misalnya :
Pokok kelas
1. gergaji adalah semacam alat pemotong
2. permadani adalah semacam alat penutup lantai
3. bedil adalah semacam senjata (kurang jelas,
karena kelasnya terlalu luas)
bedil adalah semacam senjata api (lebih jelas,
karena kelasnya lebih sempit).
4. bis adalah semacam alat pengangkutan (lebih
kabur)
bis adalah semacam alat pengangkut darat
beroda (lebih jelas)
Walaupun senjata dan alat pengangkut adalah suatu klasifikasi yang baik bagi bedil dan bis, tetapi untuk kejelasan definisi kata senjata dan alat pengangkutan mencakup terlalu banyak anggota. Dalam kelas senjata termasuk anggota-anggota : pisau, lambing, panah, busur, kampak, bedil, pistol, meriam, gada, dan sebagainya. Bila disebut senjata api maka anggotanya lebih sedikit : bedil, meriam, pistol. Demikian pula dengan alat pengangkutan bisa mencakup keanggotaan: sedan, bis, truk, kereta api, gerobak, kapal laut, kapal pesawat terbang, perahu, rakit, kuda, unta, dan sebagainya. Tetapi bila disebut alat pengangkutan darat beroda maka hanya mencakup sebagian saja dari nama-nama yang disebut diatas.
Jadi semakin sempit kelas yang dimasuki semakin baik definisinya. Langkah yang kedua untuk melengkapi definisi formal secara sempurna adalah mengadakan diferensinya. Yang dimaksud dengan diferensinya adalah menyambut ciri-ciri yang membedakan kata tadidari anggota-anggota sekelasnya. Pada umumnya semua kata, entah konkrit atau abstrak dapat dimasukkan ke dalam kelas-kelas tertentu, dengan pengertian bahwa lebih mudah untuk menemukan kelas bagi kata-kata benda konkrit daripada kata benda abstrak. Misalnya :
Pokok genus diferensiasi
1. gergaji adalah dengan dun dari lembaran baja yang tipis, dengan suatu baris gerigi pada
salah satu atau kedua tepinya.
2. permadani adalah terbuat dari tenun dari serat
3. bis adalah alat pengangkutan darat yang digunakan untukpengangkutan umum dan memuat sekitar 20-50 penumpang.
Agar sebuah definisi formal itu baik maka harus diperhatikan pula syarat-syarat berikut :
 Kata yang didefinisikan dan bagian yang mendefinisikan harus bersifat paralel, yaitu kedua bagian definisi itu harus sama bobotnya. Karena kedua bagian itu sama dan identik (A = B), maka harus dihindari kata-kata : di mana, bila, atau kalau dalam sebuah definisi.
Contoh :
a. Debat adalah bila dua orang atau pihak mempertahankan dengan bukti-bukti tentang suatu hal dalam suatu diskusi yang teratur (salah)
b. Debat adalah suatu diskusi yang teratur tentang sesuatu hal antara dua pihak atau lebih (benar)
c. Rumah adalahdimana orang-orang tinggal (salah)
d. Rumah adalah tempat tinggal manusia yang dibuat ……….. (benar)
 Kata yang didefinisikan tidak boleh menjadi bagian dari yang mendefinisikan. Begitu pula tidak boleh menggunakan sinonim.
Contoh :
a. Cepat adalah berlakunya langkah atau gerak yang lekas-lekas. (salah)
b. Cepat adalah suatu gerak yang terjadi dalam suatu waktu yang singkat (benar)
 Yang didefinisikan harus sama nilainya (ekuivalen) dengan bagian yang mendefinisikan.
a. “Hamba adalah seorang manusia”. Sebagai pernyataan kalimat ini baik, tetapi sebagai definisi kalimat ini tidak baik karena nilainya tidak sama : hamba tidak sama pengertiannya dengan seorang manusia (salah)
b. Hamba adalah manusia miliki orang lain (benar)
 Bagian yang mendefinisikan tidak boleh bersifat negatif.
Misalnya : Kursi adalah adalah rumah tangga yang bukan meja. Piyama adalah pakaian yang tidak boleh dipakai untuk resepsi.
(4) Definisi luas
Banyak kata, terutama kata-kata abstrak seperti : Propaganda demokrasi, kebajikan agama, kemerdekaan, keadilan, dan sebagainya. Sukar sekali dibatasi dengan mempergunakan satu kalimat. Kata-kata tersebut menghendaki lebih banyak keterangan daripada apa yang diperlukan oleh definisi formal.
Kita dapat membatasi pengertian demokrasi parlementer misalnya dengan bentuk pemerintahan yang kekuasaan politiknya berada di ditangan rakyat dan oleh rakyat diberi kepada wakil-wakil yang dipilihnya. Batasan ini merupakan suatu batasan yang logis, tetapi demokrasi sebagai yang dimasukkan tidak sama dimana-mana. Demokrasi parlementer di Indonesia lain; di Perancis lain; belanda juga menganut demokrasi, tetapi lain sistemnya.
Sebab itu bila hendak menerangkan arti kata itu untuk umum, kita harus memberikan ilustrasi dengan membuat bandingan, bukan saja dengan sistem pemerintahan yang lain, tetapi juga dengan bentuk demokrasi yang lain seperti yang terdapat di negara-negara lain, atau dengan bentuk demokrasi pada waktu-waktu lampau. Perluasan yang demikian dari suatu definisi formal sebagai dasar, disebut difenisi luas. Sebab definisi luas dapat teridir dari suatu alenia panjang, suatu artikel, malahan kadang-kadangterdiri dari suatu buku yang besar yang beratus-ratus halaman panjangnya.

c. Generalisasi
Gerakan adalah suatu pernyataan yang mengatakan yang benar mengenai bebarapa hal yang semacam, adalah benar atau berlaku pula untuk kebanyakan dari peristiwa atau hal yang sama.
Umumnya pengetahuan kita dibentuk dengan cara inil. Dalam kehidupan kita sehari-hari kita mengalami banyk peristiwa (fenomena-fenomena) yang mengandung kesamaan. Berdasarkan gejala-gejala ini kita lalu mengambil kesimpulan bahwa barang-barang lain yang belum kita selidiki, tetapi memiliki sifat-sifat yang sama dengan peristiwa-peristiwa tadi, pastilah memiliki sifat-sifat yang serupa. Tanpa generalisasi pengalaman-pengalaman hanya akan merupakan akumulasi fakta-fakta yang terpisah satu dari yang lain.
Misalnya dalam pengalaman kita yang pertama, ketika sepotong besi dimasukkan dalam api, ternyata volumenya membesar. Pengalaman-pengelaman selanjutnya dengan : tembaga, kuningan, emas, perak dan alumunium memperlihatkan hal-hal yang sama seperti besi, yakni : volumenya memuai. Berdasarkan kenyataan lain bahwa semua barang yang dikemukakan di atas adalah logam, maka kita membuat sebuah kesimpulan yang bersifat generalisasi : semua barang akan memuai bila dipanaskan. Demikian pula sebuah kesimpulan yang menyatakan : minuman kopi pada sore hari, menyebabkan seorang tidak dapat tidur pada malam hari, dapat merupakan sebuah generalisasi yang didasarkan atas pengalaman-pengalaman tertentu pada bebarapa sore yang berlainan.
Generalisasi adalah sebuah proses berpikir yang esensial, tidak akan ada evaluasi terhadap pengalaman-pengalaman. Sebab itu dalam membuat sebuah generalisasi harus benar-benar diperhatikan apakah peristiwa-peristiwa yang dipakai cukup banyak dan menyakinkan. Bila barang yang dipakai sebagai dasar generalisasi tidak relevan, maka generalisasi akan pincang, akan ditolak oleh akal sehat. Misalnya contoh berikut mengandung bahaya yang semacam itu :
Peristiwa A : Saudara yang menabrak seorang anak kecil
Didepan rumah kemarin pagi.
Peristiwa B : Ketika pulang dari belanja, nyonya Ali
Menabrak pintu garasinya.

Peristiwa C : Tiang lampu jalan itu tumbang ditabrak
Oleh seorang gadis yang mengendarai
sedan merah
“Generalisasi di atas tidak menyakinkan karena fakta terlalu kurang”.
Untuk bertindak jujur kepada pembaca atau pendengar, serta dapat mempertahankan pernyataan-pernyataan kita terhadap pendapat orang lain, maka janganlah membuat generalisasi bila tidak diperkuat dengan fakta-fakta yang cukup menyakinkan. Berapa banyaknya fakta yang diperlukan, tergantung dari maksud tulisan kita. Sering untuk membuktikan sesuatu hal cukup diajukan tiga atau empat contoh, tetapi harus pula disertakan contoh-contoh yang lebih banyak untuk mempertahankan generalisasi-generalisasi itu.
Demikian pula pada waktu membuat generalisasi, agar lebih berhati-hati dalam mempergunakan kakta-kata seperti : selalu, tidak pernah, semua, tidak ada, benar dan salah. Generalisasi semacam ini disebut generalisasi luas. Generalisasi luas ini sangat berbahaya, tetapi di samping itu generalisasi sempit pun mengandung bahaya yang sama besarnya. Baik generalisasi luas maupun generalisasi sempit. Berasal dari keinginan yang sama untuk mencapai konklusi tanpa berusaha mengumpulkan data-data.
Sebuah generalisasi yang baik seringkali berkurang nilainya karena pemakaian kata-kata :selalu, tidak pernah, untuk menggantikan kata biasanya atau jarang. Perhatikan contoh-contoh di bawah ini.
 Orang-orang yang luas biasa radikal pada masa mudanya selalu menjadi konservatif bila sudah memperoleh harta dan kekuasaan (berlebihan)
 Bahkan pemuda-pemuda yang sangat radikal pun tampaknya akan menjadi konservatif bila sudah memperoleh harta dan kekuasaan (baik)

Ciri-ciri kalimat efektif

1. Ciri Gramatikal
Kalimat efektif harus mengikuti kaidah tata bahasa.
Contoh :
a. Tidak Gramatikal
 Meskipun orang asing, dia pandai bicara bahasa Indonesia.
 Dia tidak ngambil buku saya
 Dia tidak ambil buku saya
 Buku saya tidak dia ambil
 Masalah itu belum semuanya disadari oleh kita
 Hari ini dia mau pergi Surabaya
 Sejak kemarin saya tidak bertemu /ketemu dia
 Saya tidak guru tapi dokter
 Apa yang saudara sudah jelaskan saya dapat pahami
b. Gramatikal
 Meskipun orang asing dia pandai berbicara bahasa Indonesia
 Dia tidak mengambil buku saya
 Buku saya tidak diambilnya
 Masalah itu belum semuanya kita sadari
 Hari ini dia mau pergi ke Surabaya
 Sejak kemarin saya tidak bertemu dengan dia
 Saya bukan guru, melainkan dokter
 Apa yang sudah saudara jelaskan dapat saya pahami
Catatan : kalimat-kalimat yang sudah mengikuti kaidah-kaidah bahasa mungkin belum efektif. Faktor kedua yang mendukung kalimat efektif adalah pilihan kata (diksi).

2. Pilihan Kata
Untuk menyusun kalimat efektif harus dipilih kata-kata yang tepat, seksama (sesuai), dan lazim. Perhatikan contoh-contoh berikut ini !
 Lambang-lambang matematika dibikin secara artifisial dan individual. (salah, seharusnya kata dibikin diganti dengan kata dibuat)
 Dalam hal ini apat dibilang bahwa matematika adalah bahasa yang berusaha menghilangkan sifat emosional dari bahasa verabal. (salah, seharusnya kata dibilang diganti dengan kata dikatakan)
 Dodi sudah dikasih pisang goreng sama ibu (salah, seharusnya kata dikasih dan sama diganti dengan kata diberi dan oleh)
 Hari besar Idul Fitri tahun 1986 jatuh pada tanggal 9 Juni. (salah, seharusnya kata besar diganti dengan kata raya)

3. Penalaran
Penguasa kaidah-kaidah bahasa dan diksi yangt tepat belum menentukan bahwa akalimat itu sudah efektif. Keefektifan kalimat didukung pula oleh jalan pikiran yang logis. Kalimat logis (kalimat yang masuk akal) dapat dipahami dengan mudah, cepat, dan tepat serta tidak menimbulkan salah paham.
Contoh :
Logis tidak logis
(1). Saya belum jelas saya belum mengerti. Keterangan itu belum
jelas bagi saya.
(2). Pemenang terbaik II mendapat pemenang II (juara II) mendapat hadiah
hadiah Rp. 500.000,00 Rp. 500.000,00

4. Keserasian
Efektif tidaknya suatu bahasa ditentukan pula oleh faktor keserasian / kesesuaian, yaitu serasi dengan pembicara/penulis dan cocok dengan pendengar / pembaca serta serasi dengan situasi dan kondisi bahasa itu dipergunakan. Dalam ragam bahasa. Dalam karya ilmiah harus dipergunakan ragam baku.
Catatan
Ragam baku adalah ragam bahasa yang dilembagakan dan diakui oleh sebagian besar warga masyarakat pemakainya sebagai kerangka rujukan norma bahasa dan penggunaanya. Sebagai kerangka rujukan, ragam baku berisi rujukan yang menentukan benar atau tidaknya penggunaan bahasa, baik ragam lisan maupun ragam tulis.

5. Kalimat logis (kelogisan)
Contoh 1 :
(1). Waktu kami persilahkan !
(2). Dirgahayu hari ulang tahun kemerdekaan RI ke-41.
Badingkanlah dengan kalimat :
(1a). Bapak mDekan kami pesilahkan !
(1b). Waktu kami serahkan kepada Bapak Dekan.
(2a). Dirgahayu Kemerdekaan RI
(2b). Dirgahayu Negra Republik Indonesia
catatan 1 :
kalimat (1) dan (2) memang tidak logis. Ketidak logisannya telihat pada hubungan S da P –ny.
Penjelasan kalimat 1 :
a. Siapakah yang dipersilahkan oleh pembawa acara ?
Jawabnya : bapak dekan, bapak camat, saudara ketua, dan sebagainya; bukan waktu.
b. Apakah yang diserahkan kepada bapak dekan ?
Jawabnya : waktu
Jadi, yang dipersilahkan oleh pembawa acara tentu saja orang, bukan benda.
Penjelasan kalimat 2 :
Hari ulang tahun itu umurnya tidak mungkin lebih dari 24 jam. Kita boleh mengucapkan seruan “ selamat hari ulang tahun kemerdekaan RI ke-41; tetapi tidak boleh mengucapkan seruan “ semoga panjang umur (= dirgahayu) hari ulang tahun kemerdekaan RI ke-41.
Contoh 2 :
(3). Pencopet itu berhasil ditangkap polisi.
(4). Yang merasa kehilangan jam tangan dapat diambil di kantor TU.
Bandingkan dengan kalimat :
(3a). Pencopet itu berhasil melarikan diri dari tangkapan polisi.
(3b). Polisi berhasil menangkap pencopet itu.
(4a). Yang merasa kehilangan jam tangan dapat mengambilnya di kantor TU.
Catatan 2 :
Kalimat (3) dan (4) memang tidak logis. Hal tersebut terlihat pada hubungan S dan P-nya.
Penjelasan kalimat 3 :
a. Siapakah yang berhasil menangkap pencopet ?
Jawabnya : polisi.
b. Sipakah yang berhasil melarikan diri ?
Jawabnya : pencopet
Jadi, polisi berhasil menangkap pencopet; sedangkan pencopet berhasil melarikan diri dari tangkapan polisi. Memang, polisi berusaha menangkap pencopet, sedangkan pencopet berusaha supaya tidak bisa ditangkap oleh polisi.
Penjelasan kalimat 4 :
Siapakah yang dapat diambil ?
Jawabnya : yang merasa kehilangan jam tangan misalkan yang kehilangan jam tangan itu hartini, maka Hartinilah yang diambil di kantor TU. Benarkah ini ? kenyataannya tidak. Maksud kalimat 4 di atas bukan Hartini yang diambil, melainkan jam tangan, atau Hartini yang dapat mengambil jamtangan itu.
Contoh 3 :
(5). Mereka ditugaskan oleh gurunya mengarang ceritaq pendek.
Bandingkan dengan kalimat :
(5a). mereka ditugasi oleh gurunya mengarang cerita pendek.
Catatan 3 :
Marilah kita teliti makna gramatikal akhiran –i dan –kan pada kata ditugasi dan ditugaskan !
Ditugasi = ‘ diberi tugas ‘
Ditugaskan = ‘ dijadikan (sebagai) tugas’
Kita dapat bertanya :
a. Siapakah yang ditugasi (diberi tugas) mengarang cerita pendek ?
Jawabnya : mereka
b. Apa yang ditugaskan kepada mereka
Kita dapat membuat kalimat dengan kata ditugaskan sebagai berikut :
(5a). mengarang cerita pendek ditugaskan kepada mereka oleh gurunya.
Marilah kita perhatikan contoh-contoh berikut ini !
(6). Tuti dihadiahi oleh Bu Sunarti sepuluh buah buku tulis.
(6a). Sepuluh buah buku tulis dihadiahkan kepada Tuti.
(7). Saya disuguhi oleh Pak Basuki makanan yang enak-enak.
(7a). Makanan yang enak-enak disuguhkan kepada saya.
Berdasarkan contoh kalimat (6), (6a), (7), dan (7a) diatas jelaslah bagi kita pemakaian kata kerja berakhiran –i dan –kan secara tepat. Kata kerja berakhiran – i berkaitan dengan orang yang berkepentingan, sedangkan kata kerja berakhiran –kan berkaitan dengan objek.
Contoh 4 :
(8). Penulis terbaik I mendapat hadiah Rp 750.000,00.
Bangdingkan dengan :
(8a). Penulis terbaik/pemenang I / juara I mendapat hadiah Rp. 750.000,00.
Catatan 4 :
Awalan ter- pada kata terbaik berarti menyatakan ‘ paling ‘. Yang terbaik (paling baik) hanyalah satu. Jadi, yang logis adalah penulis terbaik/ pemenang I/ juara I. Begitu juga yang lainnya kita sebut pemenang II/ juara II (bukan penulis terbaik II), pemenang harapan I/ juara harapan I (bukan penulis terbaik harapan I), dan seterusnya.
Contoh 5 :
(9). Karena akan hujan saya berlarian pulang.
Bandingkan dengan :
(9a). Karena akan hujan, saya berlari pulang.
(9b). Karena akan hujan, mereka berlarian pulang.
Catatan 5 :
Imbuhan ber-an pada kata berlarian menyatakan bahwa ‘tindakan itu dilakukan oleh banyak pelaku’. Jika pelakunya hanya seorang, tepatnya dipakai kata kerja berawalan ber-saja bukan ber-an.

6. Kalimat Padu (kepaduan)
Contoh 1 :
1. Malaysia sebelum mengadakan persetujuan bersama dengan Indonesia tentang peristilahan telah mempunyai aturan sendiri seperti yang telah digariskan oleh Universitas Malaysia.
2. Pembaca setelah selesai melakukan kegiatannya dapat menangkap dan merasakan ide-ide yang dikemukakan oleh pengarang buku ini.
(1a). Sebelum mengadakan persetujuan bersama Indonesia tentang peristilahan, malaysia telah mempunyai aturan sendiri seperti yang telah digariskan oleh Universitas Malaysia.
(2a). setelah selesai melakukan kegiatannya, pembaca dapat menangkap dan merasakan ide-ide yang dikemukakan oleh pengarang buku itu.
Catatan 1 :
Kalimat (1) dan (2) di atas padu, sebab hubungan S dan P terganggu oleh keterangan yang disisipkan diantara S dan P. Keterangan …. Sebelum mengadakan persetujuan bersama dengan Indonesia tentang peristilahan … dan setelah seslesai melakukan kegiatannya…seharusnya digeser ke posisi depan atau posisi belakang. Jadi kalimat (1a) dan (2a)-lah yang padu.
Contoh 2 :
(3). Selanjutnya saya akan jelaskan pentingnya bahasa bagi manusia.
(4). Jadi, kita harus lestarikan bahasa-bahasa daerah itu sebaik-baiknya.
Bandingkan dengan kalimat :
(3a). Selanjutnya akan saya jelaskan pentingnya bahasa bagi manusia.
(4a). Jadi, harus kita lestarikan bahasa-bahasa daerah itu sebaik-baiknya.
Catatan 2 :
Keterangan aspek seperti akan, harus, telah, belum, sedang dan sebagainya. Tidak boleh disisipkan pada kata kerja pasif yang berupa ikatan erat pelaku orang I dan II dengan pokok kata kerja. Jdi, kalimat (3a) dan (4a)-lah yang padu.
a. Keterangan aspek seperti akan, telah, harus dan sebagainya. Dapat disisipkan diantara S dan P pada kalimat aktif berikut ini.
(3b). Selanjutnya saya akan menjelaskan pentingnya bahasa bagi manusia.
(4b). Jadi, kita harus melestarikan bahasa-bahasa daerah itu sebaik-baiknya.
Keterangan aspek pada contoh (3b) dan (4b) ditempatkan di muka P. Keterangan aspek dan P (kata kerja aktif) itu mempunyai hubungan erat sehingga tidak boleh dipisahkan. Kalimat (3b) dan (4b) menjadi tidak padu jika dikatakan sebagai berikut :
(3c). Selanjutnya akan saya menjelaskan pentingnya bahasa bagi manusia.
(4c). Jadi, harus kita lestarikan bahasa-bahasa daerah itu dengan sebaik-baiknya.
Contoh 3 :
(5). Dalam kita menghadapi berbagai-bagai cobaan hidup kita harus tetap tabah.
Catatan 3 :
Pada kalimat (5) di atas, subjek kita menyisipkan dalam keterangan. Akibatnya, hubungan S (kita) dan P-nya (harus tetap tabah0 tidak padu. Agar menjadi padu, S harus didekatkan di muka P.
Ketidak paduan kalimat seperti pada contoh 1,2 dan 3 disebabkan oleh tidak tepatnya posisi unsur-unsur kalimat itu. Tegasnya, posisi unsur-unsur itu tidak mengikuti aturan pola kalimat bahasa Indonesia.
Contoh 4 :
(6) Ani sangat menyayangi kepada adiknya.
(7). Listrik masuk desa sungguh menguntungkan bagi masyarakat desa.
Bandingkan dengan kalimat :
(6a). Ani sangat sayang kepada (akan) adiknya.
(7a). Listrik masuk desa sungguh menguntungkan masyarakat desa.
Catatan 4 :
Ketidak paduan kalimat (6) dan (7) disebabkan oleh tidak tepatnya pemakaian kata depan kepada/bagi di antara P dan O (objek penderita). Pada kalimatseperti contoh (60 dan (7) itu P yang terdiri atas kata kerja transitif dapat dihubungkan langsung dengan O tanpa kata depan kepada /bagi.

7. Kalimat tidak goyah
Contoh 1 :
(1). Pelatihan Rektor IKIP Malang yang baru diselenggarakan di Gedung Sasana Krida.
(2). Itulah Istri Pak Lurah yang baru.
Bandingkan dengan kalimat :
(1a). Pelatihan Rektor (yang ) baru IKIP Malang diselenggarakan di Gedung Sasana Krida.
(2a). Itulah isteri 9yang baru Pak Lurah.
Catatan 1 :
a. Kalimat (1) dapat menimbulkan pertanyaan :
Rektornya yang baru ? atau IKIP-nya yang baru ?
Demikian juga kalimat (2) dapat menimbulkan pertanyaan :
Isteri nya yang baru ? atau Pak Lurah yang baru ?
Jika yang dimaksud memang rektor dan istri, maka keterangan yang baru harus didekatkan pada induknya, yanitu kata yang diterangkan itu. Di samping dengan mendekatkan keterangan pada induknya, dapat juga dengan menggunakan tanda hubung (-). Ajadi dapat dituliskan sebagao berikut.
Itulah istri-Pak Lurah yang baru (yang baru adalah istrinya)
Itulah istri Pak Lurah-yang baru. ( yang baruadalah Pak Lurahnya).
b. Kemenduaan makna sering timbul pada kelompok kata yang induknya berketerangan lebih dari satu; misalnya :
Buku sejarah baru
(induk) (keterangan 1) (keterangan 2)
anak pegawai yang rajin
(induk) keterangan 1) (keterangan 2)
kelompok kata seperti contoh di atas yang mempunyai kesamaan lahiriah, tetapi berbeda maknanya disebut kehomoniman struktur.
Contoh 2 :
(3). Uang itu sudah dikirimkan kakak kemarin.
Bandingkan dengan kalimat :
(3a). Uang itu sudah dikirimkan kepada kakak kemarin (oleh ayah).
(3b). Uang itu sudah dikirimkan oleh kakak kemarin ( kepada ayah).
Catatan 2 :
Penghilangan kata depan kepada atau oleh dapat menimbulkan kemenduaan makna. Karena itu, kata depan kepada atau oleh harus dinyatakan secara eksplisit jika P-nya kata kerja pasif berawalan di-

8. Kalimat hemat
Contoh 1 :
(1). Nama dari (dari pada) majalah sekolahnya ialah suluh pelajar.
(2). Kita wajib saling menghormati terhadap hak-hak asasi manusia.
Catatan 1 :
a. kata tugas dari/ daripada yang menyatakan keterangan milik (kepunyaan tidak perlu dipakai.
b. Kata tugas terhadap tidak perlu dipakai sebab kata kerja transitif menghormati dapat diikuti secara langsung oleh objek penderita hak-hak asasi manusia.
Pada contoh (1) di atas yang dihematkan ialah kata tugasnya.
Perhatikan contoh-contoh lain berikut ini :
 Penelitian ini bertujuan (untuk mendeskripsikan sistem morfologi kata kerja bahasa tengger.
 (Mengenai) program kelompok belajar paket A telah berkembang dengan baik.
 Mahasiwa harus memahami (akan) pentingnya buku bagi pengembangan dan peningkatan (daripada) ilmu pengetahuan.
 Pola alamiah (dari) suatu kerangka karangan biasanya berdasarkan (atas) urutan-urutan kejadian, tempat atau ruang.
 Karena itu (maka) ia tidak ikut bermain-main.
Contoh 2 :
(3). Para tamu-tamu sudah dipersilahkan duduk.
(4). Di dalam karangan ini masih banyak kesalahan-kesalahan ejaan.
Bandingkan dengan kalimat :
(3a). Para tamu sudah dipersilahkan duduk.
(4a). Di dalam karangan ini masih banyak kesalahan ejaan.
Catatan 2 :
Kata para dan banyak menunjukan jamak. Karena itu kata benda yang mengikutinya tidak perlu diulang. Kata-kata berikut ini pun sudah menunjukan makna jamak : kaum, semua, segala, beberapa, rombongan, rangkaian, dan daftar.
Contoh 3 :
(5). Jadi, yang disebut kata tidak lain dan tidak bukan ialah morfem bebas.
(6). Diftongisasi adalah proses berubahnya monoftong berubah menjadi diftong.
Bandingkan dengan kalimat :
(5a). Jadi, yang dimaksud kata ialah morfem bebas.
(6a). Diftongisasi adalah proses berubahnya monoftong menjadi diftong.
Catatan 3 :
Kalimat (5) dan (6) di atas adalah suatu definisi. Syarat definisi yang baik yaitu :
(1). Tidak boleh dinyatakan dalam bentuk negatif.
(2). Tidak boleh memakai kata-kata : di mana, bila, jika, kalau, dan sebagainya.
Contoh 4 :
(7). Hardi tidak masuk sekolah sebab dia sakit.
(8). Semua siswa boleh pulang setelah mereka menyelesaikan tugas rumah.
Bandingkan dengan kalimat :
(7a). Hardi tidak masuk sekolah sebab sakit.
(8a). Semua siswa boleh pulang setelah menyelesai tugas rumah.
Catatan 4 :
Subjek yang sama dalam satu kalimat tidak perlu diulang. Kalimat (7) dan (8) dapat dihematkan menjadi kalimat (7a). dan (8a).
Contoh 5 :
(9). Bajunya berwarna putih.
(10). Dia suka makan buah apel.
Bandingkan dengan kalimat :
(9a). Bajunya putih
(10a). Dia suka makan Apel.
Catatan 5 :
Kata putih (merah, hitam, hijau, dan sebagainya) adalah hiponimterhadap kata warna ; sedangkan kata apel (jeruk, pisang, pepaya, dan sebagainya) adalah hiponim terhadap kata buah. Dalam hiponim telah terkandung makna dasar kelompok makna yang bersangkutan. Jadi, kat putih mengandung makna dasar kelompok warna; kata apel mengandung makna dasar kelompok buah. Karena itu, sebaiknya hindarkan pemakaian hiponim dan hipernim secara bersamaan.
Contoh 6 :
(11). Tanpa dengan bekerja keras, tidak akan berhasil usaha anda.
(12). Ayahnya tiada ada di rumah.
Bandingkan dengan kalimat :
(11a). Tanpa bekerja keras, tidak akan berhasil usaha anda.
(12a). Ayahnya tidak ada di rumah.
(12b). Ayahnya tiada di rumah.
Catatan 6 :
Bentuk kata seperti contoh (11) dan (12) merupakan bentuk rancu. Kata tanpa dengan berarti tidak dengan dengan; kata tiada ada berarti tidak ada ada.

9. Kalimat Bervariasi (variasi kalimat)
9.1. Variasi Urutan
Contoh 1 :
(1). Dia belajar dengan rajin.
Bandingkan dengan kalimat :
(1a). Belajar dengan rajin dia.
(1b). Dengan rajin dia belajar
(1c). Dengan rajin belajar dia.
Catatan 1 :
a. Kalimat (1) berurutan biasa/ umum (S-P).
b. Kalimat (1a) berurutan terbalik / khusus (inversi P-S)
c. Kalimat (1b) berurutan biasa disertai penggeseran keterangan kualitas ke posisi depan (prolepsis).
d. Kalimat (1c) berurutan terbalik disertai penggeseran keterangan kualitas ke posisi depan.
e. Pada kalimat (1) kata dia menduduki posisi depan .
Hal tersebut tidak berarti bahwa kata dia dikuatkan, tetapi berhubung dengan tugasnya sebagai subjek. Sebagai subjek sudah lajimnya menduduki posisi depan. Karena itu, meskipun menduduki posisi paling depan, terasa tidak seberapa kuat. Berbeda halnya jika posisi depan itu diduduki oleh predikat, objek atau keterangan.
Dalam kalimat (1a) kata belajar yang bertugas sebagai predikat ditempatkan pada posisi depan. Hal ini memang hendak dikuatkan. Dengan demikian, predikat itu terasa lebih menonjol dan menarik perhatian. Dalam kalimat (1b) dan (1c) kata dengan rajin, yang bertugas sebagai keterangan, digeserkan pada posisi depan karena hendak dikuatkan juga. Jadi, jelaslah bahwa posisi depan merupakan posisi yang paling kuat. Posisi tengah biasanya kurang kuat. Posisi tengah dapat menjadi kuat jika diduduki oleh predikat dalam inversi (kalimat (2c)). Jadi, predikat belajar pada kalimat (2c) menjadi terasa kuat bahkan menjadi paling kuat; sedangkan predikat belajar pada kalimat (1) tidak terasa kuat sebab berurutan biasa/umum. Posisi belakang lebih kuat daripada posisi tengah. Bandingkanlah predikat belajar pada kalimat (1) dan (1b). manakah yang terasa lebih kuat ?
f. Perhatikanlah ketentuan-ketentuan pengubahan urutan kata dalam kalimat yang menghasilkan variasi urutan !
1. Segala macam keterangan yang bebas dapat dipertukarkan tempatnya, mungkin di depan, tengah, atau di belakang.
Contoh :
(2). Ibu pergi ke Surabaya kemarin
(2a). Kemarin ibu pergi ke Surabaya.
(2b). Ibu kemarin pergi ke Surabaya.
(2c). Ibu pergi kemarin ke Surabaya.
Keterangan-keterangan yang terkait tentu saja tidak boleh dipertukarkan tempatnya.
Contoh :
(3). Darto sedang belajar.
(3a). Sedang Darto belajar
(3b). Darto belajar sedang
Kalimat (3b) tidak merupakan variasi kalimat (3) sebab maksudnya berbeda. Variasi kalimat (3) ialah sedang belajar Darto. Jadi, keterangan + predikat merupakan satu kesatuan tidak boleh dipisahkan atau dipersatukan tempatnya.
2. Predikat dan objek penderita tidak boleh dipisahkan sebab hubungan kedua unsur itu erat sekali.
Contoh :
(4). Rini membantu ibunya.
(4a). Ibunya membantu Rini.
(4b). Rini ibunya membantu.
Kalimat (4a) tidak merupakan variasi kalimat (4) sebab maksudnya berbeda. Variasi kalimat (4)) ialah membantu ibunya/ Rini.
Keterangan-keterangan yang terkait tentu saja tidak boleh dipertukarkan tempatnya.
3. Predikat pasif di- dan objek pelaku tidak boleh dipisahkan sebab hubungan kedua unsur itu erat sekali.
Contoh :
(5). Buku saya dipinjam Hardi.
(5a). Buku saya Hardi dipinjam.
(5b). Hardi buku saya dipinjam.
Kalimat (5a) dan (5b) tidak bermakna. Variasi kalimat (5) ialah dipinjam hardi/ buku saya. Jelas bahwa hubungan predikat pasif di- dan objek pelaku erat sekali sehingga tidak mungkin dipisahkan. Berbeda halnya jika objek pelaku itu diantara kata depan oleh.
Perhatikan contoh berikut ini !
(6). Buku saya dipinjam oleh Hardi.
(6a). Buku saya oleh Hardi dipinjam.
(6b). Oleh Hardi buku saya dipinjam.
Dari contoh kalimat di atas jelas bahwa oleh hardi merupakan kelompok bebas yang dapat dipindahkan tempatnya, terpisah dengan predikat.
4. Predikat kata kerja rangkap dapat divariasikan dengan (a) dinversikan dan (b) di prolepsikan.
Contoh :
(7). Hardi dapat mengarang cerpen.
(7a). Dapat mengarang cerpen / Hardi.
(7b). Mengarang cerpen / Hardi dapat.
Kalimat (7a) merupakan hasil pembalikan (inversi). Sedangkan kalimat (7b) merupakan hasil penggeseran (prolepsis). Contoh lain dapat dilihat berikut ini.
(8). Rini pandai menyanyi.
(8a). Pandai menyanyi/ Rini (inversi).
(8b). Menyanyi/ Rini pandai (prolepsis).
Dari contoh di atas jelas bahwa kata kerja yang menjadi keterangan adverbal, jika hendak diutamakan, dapat juga digeserkan ke posisi depan (kalimat (7b) dan (8b).
5. Subjek dengan keterangan tidak boleh dipisahkan.
Contoh :
(9). Buku baru ini milik saya.
(9a). Buku milik saya baru ini
(10). Orang sabar dikasihi Tuhan.
(10a). Orang dikasihi Tuhan sabar.
6. Anak kalimat yang biasanya terletak di belakang, dapat digeserkan ke depan jika memang hendak diutamakan.
Contoh :
(11). Saya sudah mengetahui bahwa dia akan datang pada hari ini.
(11a). Bahwa dia akan datang hari ini, sudah saya ketahui.
Itulah beberapa ketentuan pengubahan urutan bagian-bagian kalimat yang dapat memvariasikan kalimat.

9.2. Variasi Aktif – Pasif
Contoh 2 :
(1). Pohon pisang itu cepat tumbuh. Orang dengan mudah dapat menanamnya dan memeliharanya. Lagi pula petani tidak perlu memupuknya. Dia hanya menggali lubang, menanam, dan tinggal menunggu buahnya. Tanaman pisang memang tidak mau mati sebelum berbuah; sehingga di Sumatera Barat orang tua menasehati anaknya sebagai berikut, “kalian harus mencontoh hidupnya pohon pisang, berbuah dulu barulah mati”.
Bandingkan kalimat-kalimat pada paragraf – paragraf (1a) berikut ini !
(1a). Pohon pisang itu cepat tumbuh. Dengan mudah pohon itu dapat ditanam dan dipeliharanya. Lagi pula tidak perlu dipupuk. Petani hanya menggali lubang, menanam, dan tinggal menunggu berbuah; sehingga di Sumatera Barat orang tua menasehati anaknya sebagai berikut, “ hai, Buyung, contohlah hidup pisang, berbuah dulu barulah mati”.
Catatan 2 :
a. Kalimat-kalimat pada paragraf (1) semuanya berupa kalimat aktif, sedangkan pada paragraf (1a) berupa kalimat aktif dan pasif. Dapat dikatakan bahwa kalimat-kalimat pada paragraf 91) tidak bervariasi. Variasi (1a) disebut aktif pasif.
b. Pemakaian bentuk aktif dan pasif.
Pemakaian bentuk aktif dan pasif dalam karang mengarang terlihat pada contoh berikut ini.
(1). Dalam memperkaya bahasa Indonesia, kita menyerap unsur dari berbagai bahasa lain.
(1a). Unsur dari berbagai bahasa lain itu kita sesuaikan dengan kaidah bahasa Indonesia.
(2). Mahasiswa harus dapat menggunakan buku-buku wajib.
(2a). Buku-buku wajib itu dipelajari dengan cermat.
Dari contoh di atas dapat diketahui bahwa bentuk aktif me(N)-/ meN)- kan pada kalimat (1) dan (2) dipaki untuk mengutamakan pelaku perbuatan, yaitu :
Kita dan mahasiswa; sedangkan pada kalimat (1a) dan (2a) objeknya yang lebih diutamakan, yaitu unsur dari berbagai bahasa lain dan buku-buku wajib itu.
Dalam menggunakan kedua bentuk itu ada dua hal yang perlu diperhatikan, yaitu :
a. Pada bentuk aktif hubungan pelaku dengan kata kerjanya tidaklah erat, sehingga kedua unsur itu dapat dipisahkan atau diantaranya disela oleh kata-kata lain; dan
b. Pada bentuk pasif hubungan pelaku dengan kata kerja erat sekali, sehingga kedua unsur itu tidak dapat dipisahkan atau di antaranya disela oleh kata-kata lain.

Contoh-contoh :
(3a). Kita dewasa ini sedang membangun negara dengan bekerja keras.
(3b). Kemerdekaan itu kita rebut dan kita perjuangkan dengan darah dan air mata.
Tidak dikatakan :
(3c). Kemerdekaan itu kita sudah rebut dengan darah dan air mata.
Hal lain yang juga perlu diperhatikan adalah pemakaian bentuk aktif berikut ini.
(4). Kaslan tuduh 30 pemain, ofisial dan wasit terlibat suap.
(5). Herlina nasehatkan Kaslan urus dirinya sendiri.
(6). Masyarakat dambakan tegaknya hukum yang berwibawa.
Bentuk kata kerja yang dicetak miring ini adalah kata kerja aktif juga. Bentuk-bentuk kata kerja seperti itu banyak dijumpai dalam judul-judul surat kabar. Dalam surat kabar kata kerja aktif berawalan me(N)- sering dihilangkan. Hal seperti itu tentu saja tidak boleh dipakai dalam karang mengarang pada umumnya sebab bentuk-bentuk seperti itu dianggap tidak baku. Jadi, dalam karang mengarang biasa kalimat-kalimat di atas seharusnya dikatakan :
(4a). Kaslan menuduh 30 pemain, ofisial, dan wasit terlibat suap.
(5a). Herlina menasihatkan Kaslan mengurus dirinya sendiri.
(6a). Masyarakat mendambakan tegaknya hukum yang berwibawa.
Kecuali dalam judul-judul surat kabar dan dalam bahasa tutur, tidak ada masalah tentang pemakaian bentuk aktif. Lain halnya dengan pemakaian bentuk pasif, terutama pemakaian bentuk pasif, terutama di- yang akan diuraikan berikut ini.
Dalam bahasa Indonesia lazim dipakai konstruksi pasif sebagai berikut :
a. ku baca
b. saya baca
c. kami baca
d. kita baca
e. kau baca
(7) Surat kabar ini f. Kamu baca
g. saudara baca
h. dibacanya
i. dibaca ayah
j. dibaca mereka
Bentuk pasif di atas dapat di ringkas menjadi dua macam, yaitu (1) bentuk pasif ku- dan kau ((a) sampai dengan (g)) dan (2) bentuk pasif di- ((h) sampai dengan (j)). Dari contoh di atas jelas bahwa pada bentuk pasif ku- atau kau- pelaku orang I/II terletak di muka pokok kata kerja, sedangkan pada bentuk pasif di- pelaku orang III terletak di belakang kata kerja berlawanan di-.
Pada bentuk pasif (b), (c), (d), (f), dan (g), pelaku orang I/II dengan pokok kata kerjanya merupakan ikatan erat. Karena itu tidak tepatlah jika kedua unsur tersebut di sisipkan kata-kata lain, misalnya:
Saya sudah baca.
Kami sudah baca.
(8). Surat kabar ini kita sudah baca.
Kamu sudah baca.
Saudara sudah baca.
Telah di uraikan dalam bentuk pasif di-, pelaku orang tiga terletak di belakangnya. Akan tetapi, dewasa ini terdapat bentuk pasif dengan pelaku orang III yang menyimpang dari kezaliman itu. bentuk pasif yang di maksud adalah sebagai berikut ini:
(9) Surat kabar ini sudah dibaca dia baca
mereka baca
bentuk pasif dia baca dan mereka baca berpola sama dengan bentuk pasif ku- atau kau-, pelaku orang III terletak di muka pokok kata kerja. Pemakaian bentuk pasif ku- atau kau- dengan pelaku orang III dia / mereka, dewasa ini tampak produktif , bahkan mungkin akan mendesak bentuk pasif yang lazim dibacanya (dibaca oleh), dibaca mereka (dibaca oleh mereka). Meskipun demikian, bentuk pasif dia dibaca dan mereka baca dianggap tidak baku.
Perlu dicatat bahwa bentuk pasif seperti contoh (9) it hanya terbatas pada pelaku orang III yang berupa kata ganti. Jika pelakunya bukan kata ganti tetap dipakai pasif di,-misalnya.
Darto
(10) Surat kabar itu sudah dibaca ayah Darto
Pak Hardi
Jadi, tidak pernah dipakai kontruksi / bentuk pasif, misalnya :
Darto
(10a) Surat kabar ini sudah ayah Darto baca
pak Herdi
hal yang sebaliknya juga tidak pernah dipakai bentuk pasif di – yang pelakunya orang I/II, misalnya :
saya
(10b) Surat kabar ini sudah dibaca (oleh) kami
kita
kamu ?
(10c) Apakah buku ii sudah dibaca anda ?
kita ?
sekiranya ada pemakai bahasa Indonesia menggunakan bentuk pasif seperti contoh (10b) dan (10c) di atas, barangkali mereka terpengaruh oleh bahasa daerah tertentu, misalnya bahasa Sunda, Batak Toba, Madura dan sebagainya.
Didalam karang-mengarang selain bentuk pasif di-+bentuk orang III, sering pula dipakai pasif di-tanpa pelaku itu merupakan imbalan bentuk aktif me (N)- juga, tetapi pelakunya ditanggalkan (disembunyikan).
Perhatikan contoh-contoh berikut ini !
(11) Bahasa Indonesia dipakai sebagai bahasa pengantar di sekolah mulai dari taman kanak-kanak sampai pendidikan tinggi diajarkan diseluruh Indonesia kepada anak didik yang berbeda-beda bahasa ibunya.
(12) Bahasa-bahasa daerah yang masih digunakan sebagai alat perhubungan yang hidup tetap dipelihara oleh negara. Karena itu, bahasa-bahasa daerah tertentu perlu dibekukan oleh negara / pemerintah.
Selanjutnya, perhatikanlah pemakaian bentuk di- tanpa pelaku berikut ini !
(13) Untuk mencapai tujuan seperti yang telah disebutkan di muka, dalam penelitian ini digunakan kerangka teori yang bersifat gabungan.
(14) Dalam perkembangannya, bahasa Indonesia menyerap unsur dari bahasa asing. Unsur asing itu pengucapan dan penulisannya disesuaikan dengan kaidah bahasa Indonesia, dan usahakan ejaan asing itu diubah sepenuhnya sehingga bentuk Indonesianya masih dapat dibandingkan dengan bentuk asalnya.
Tentu dapat dirasakan bedanya bentuk pasif di- pada contoh (11) dan (12) dengan contoh (13) dan (14). Apakah perbedaannya?
Pada contoh (11) dan (12) pelaku yang disembunyikan itu jelas diri ketiga, sedangkan pada contoh (13) dan 14 pelaku yang disembunyikan itu bukan diri ketiga, melainkan diri pertama. hal tersebut akan nampak jelas jika kalimat (13) dan (14) di ubah menjadi :
(13a) Untuk mencapai tujuan seperti yang telah saya / kami sebutkan di muka, dalam penelitian ini saya/ kami pergunakan kerangka teori yang bersifat gabungan.
(14a) Dalam perkembangannya, bahasa Indonesia menyerap unsur dari bahasa asing. Unsur asing itu pengucapan dan penulisannya kita sesuaikan dengan kaidah bahasa Indonesia, dan kita usahakan ejaan asing itu kita ubah seperlunya sehingga bentuk-bentuk Indonesianya masih dapat kata bandingkan dengan bantu asalnya.
Pemakaian bentuk pasif di-seperti contoh (13) dan (14) sering dipakai dalam surat-menyurat. Perhatikan contoh berikut ini !
(15) Dengan hormat diberitahukan (= kami beritahukan) kepada semua mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia bahwa HMJ akan mengadakan lomba baca puisi.
(16) Diharap (=kami harap) dengan hormat kehadiran saudara pada rapat jurusan yang akan diselenggarakan (= kami diselenggarakan) ……..
Disamping dari ketiga dan pertama, diri kedua pun dapat disembunyikan pada bentuk di-tanpa pelaku. Perhatikan contoh berikut ini!.
(17) Kami kirimkan dengan hormat formulir pendaftaran bea siswa Supersemar kepada saudara sebanyak enam kali. Setelah diisi harap dikirim kepada kami paling lambat tanggal 31 Maret 1984.
(18) Buku-buku ini boleh dibaca di sini, tetapi tidak boleh dibawa pulang. Dari contoh (17) dan (18) di atas jelas bahwa pelaku yang disembunyikan pada bentuk di-itu dari adalah dari kedua. Bandingkanlah kalimat (17) dan (18) dengan kalimat (17a) dan (18a) berikut ini !.
(17a) Kami kirimkan dengan hormat formulir pendaftaran bea siswa Supersemar kepada saudara sebanyak enam helai. Setelah saudara isi harap saudara kirimkan kepada kami paling lambat pada 31 Maret 1984.
(18a) Buku-buku ini boleh saudara baca di sini, tetapi tidak boleh saudara bawa pulang.
Pemakaian bentuk di-tanpa pelaku seperti pada contoh (13, (14), (15), (16) (17), dan (18) di atas sedikit banyak mengandung nilai rasa untuk menghindari pemakaian bentuk pasif ku-atau kau- yang secara langsung. Cara yang demikian itu bisa digunakan dalam penuturan yang bermaksud menyuruh, melarang, menganjurkan, dan sebagainya.
Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa bentuk pasif nol (bentuk pasif ku-/kau-) dan pasif di- tanpa pelaku dapat bervariasi. Perhatikanlah sekali lagi contoh berikut ini !.
(19) Ketentuan-ketentuan mengenai bahasa Indonesia baku bertalian erat dengan masalah tata cara pembakuan dan pengembangan bahasa Indonesia. Selain kita ketahui sasaran yang hendak dicapai, yaitu bahasa Indonesia yang baku, bagaimanakah tata cara yang dipakai di dalam usaha pembakuan itu? jalan yang dapat kita tempuh untuk tujuan itu ialah pengajaran bahasa Indonesia baku mulai dari taman kanak-kanak sampai dengan pendidikan tinggi.

(18a) Buku-buku ini boleh saudara baca di sini, tetapi tidak boleh saudara bawa pulang.
Pemakaian bentuk di-tanpa pelaku seperti pada contoh (13), (14), (15), (16) (17), dan (18) di atas sedikit banyak mengandung nilai rasa untuk menghindari pemakaian bentuk pasif ku-atau kau- yang secara langsung. Cara yang demikian itu bisa digunakan dalam penuturan yang bermaksud menyuruh, melarang, menganjurkan, dan sebagainya.
Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa bentuk pasif nol (bentuk pasif ku-/kau-) dan pasif di- tanpa pelaku dapat bervariasi. Perhatikanlah sekali lagi contoh berikut ini !.
(19) Ketentuan-ketentuan mengenai bahasa Indonesia baku bertalian erat dengan masalah tata cara pembakuan dan pengembangan bahasa Indonesia. Selain kita ketahui sasaran yang hendak dicapai, yaitu bahasa Indonesia yang baku, bagaimanakah tata cara yang dipakai di dalam usaha pembakuan itu? jalan yang dapat kita tempuh untuk tujuan itu ialah pengajaran bahasa Indonesia baku mulai dari taman kanak-kanak sampai dengan pendidikan tinggi.

9.3 Variasi Panjang Pendek
contoh 3 :
(1) (a) Karang-mengarang selalu berusaha dengan bahasa. (b) Kecakapan menggunakan bahasa merupakan bekal utama. (c) Di sekolah telah diberi modal pengetahuan bahasa, bahkan telah pula dilatih menggunakannya dengan mengarang. (d) Sekalian itu menjadi modal yang sangat berharga. (e) modal itu tidak cukup hanya kita miliki sebagai pengetahuan, tetapi harus dikembangkan lebih lanjut dalam kehidupan bahasa yang sesungguh-sungguhnya, yaitu dalam masyarakat. (f) Jadi, untuk karang mengarang bukan pengetahuan teori yang sangat diperlukan, melainkan pengggunaannya dalam tulis menulis.
Dari contoh diatas dapat diketahui bahwa kalimat (a), (b) dan (c) berupa kalimat pendek, sedangkan kalimat (d), (e), dan (f) berupa kalimat panjang. Dapat dikatakan bahwa paragraf di atas kalimat-kalimatnya bervariasi, yaitu variasi kalimat panjang dan pendek.
Bandingkan dengan kalimat-kalimat pada paragraf (2) dan (3) berikut ini !.
(2) Bila seorang asing berbicara dalam bahasanya yang tidak kita pahami, pertama-tama akan terdengar oleh kita berbagai bunyi yang berselang seling yang rumit sekali. Sedikit demi sedikit, apabila kita makin kenal akan bahasa itu, akan berubahlah pembicaraan-pembicaraan asing itu dari bunyi-bunyi yang tidak karuan itu menjadi bunyi-bunyi dan urutan-urutan bunyi yang dapat kita bedakan. Bunyi-bunyi dan urutan bunyi-bunyi itu selalu berulang. Apabila kita akhirnya mengetahui bahasa asing itu, akan tampaklah dengan jelasnya kepada kita bahwa ada aturan-aturan yang menguasai pemakaian bunyi-bunyi dan aturan-aturan itu.
(3) Bahasa adalah alat komunikasi yang penting. Tidak alat komunikasi yang lebih baik dari bahasa. Bagaimana seandainya kalau tidak ada bahasa ? alangkah sunyinya dunia ini ! tanpa bahasa tak akan ada ilmu pengetahuan. Memang bahasa itu tak terpisahkan dari kehidupan manusia.
Dapat dilihat bahwa paragraf (2) kalimat-kalimatnya terdiri atas kalimat panjang, sedangkan paragraf (3) kalimat-kalimatnya terdiri atas kalimat pendek. Pada paragraf (2) dan (3) tidak terdapat variasi kalimat panjang dan pendek. Jadi, kalimat panjang dan pendek dapat dipakai untuk memvariasikan kalimat. Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa kalimat-kalimat dalam karangan perlu diselang-selingkan, kalimat panjang dengan kalimat pendek atau sebaliknya. Dengan cara yang demikian, karangan itu tetap menarik perhatian.

Cacatan 3 :
Pemakaian kalimat panjang-pendek dalam karangan
Dari contoh paragran (2) dapat diketahui bahwa kalimat panjang itu biasanya berupa kalimat majemuk, baik majemuk setara maupun bertingkat. Selain berupa kalimat majemuk, kalimat panjang bisa juga berupa kalimat luas seperti terlihat pada contoh-contoh berikut ini :
(1) Bahasa Indonesia yang dalam Undang-Undang Dasar 1945, Bab XV, Pasal 36 dinyatakan sebagai Bahasa Negara telah meletakkan dasar yang kuat dan resmi bagi pemakaian bahasa Indonesia, baik sebagai bahasa perhubungan pada tingkat nasional maupun sebagai bahasa resmi kenegaraan.
(2) Bahasa Indonesia yang oleh Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928 diakui sebagai bahasa nasional dipakai diseluruh Indonesia, didaerah-daerah yang berbeda-beda latar belakang kebahasan, kebudayaan, dan di dalam lapisan masyarakat yang berbeda-beda pula latar belakang pendidikannya.
Kalimat panjang seperti contoh (1) dan (2) di atas terjadi dari perluasan subjek dan predikat dengan berbagai keterangan. Jadi, bukan terjadi dari penggabungan dari penggabungan dua buah kalimat atau lebih seperti kalimat-kalimat pada contoh paragraf (2). Baik kalimat panjang yang berupa kalimat majemuk maupun berupa kalimat luas dapat dijadikan kalimat-kalimat pendek. Kalimat majemuk dapat diuraikan menjadi kalimat-kalimat tunggal, sedangkan kalimat luas dapat dipendekkan tanpa perluasan subjek dan predikat dengan keterangan-keterangan yang panjang. Perhatikanlah contoh berikut !

Majemuk
(3) Meskipun kita ini dibesarkan dalam lingkungan yang berbahasa daerah, bahasa Indonesia tidak kita anggap sebagai bahasa asing.

Tunggal
(3a) Kita ini dibesarkan dalam lingkungan yang berbahasa daerah. Meskipun demikian, bahasa Indonesia tidak kita anggap sebagai bahasa asing.

Luas
(4) Bahasa Indonesia yang dalam Undang-Undang Dasar 1945, Bab XV, Pasal 36 dinyatakan sebagai Bahasa Negara telah meletakkan dasar yang kuat dan resmi bagi pemakaian bahasa Indonesia baik sebagai bahasa perhubungan pada tingkat nasional maupun sebagai bahasa resmi kenegaraan.

Pendek
(4a) Bahasa Indonesia meletakkan dasar yang kuat dan resmi bagi pemakaian Bahasa Indonesia

Seperti jelas pada contoh kalimat (1) dan (2), (3) dan (4) kalimat panjang itu dipakai untuk membicarakan banyak hal. Jika sedikit saja hal yang dibicarakan, cukup dipakai kalimat pendek.
Kalimat panjang, lebih-lebih yang terlalu panjang, sering menyulitkan pembaca. Untuk memahami isinya, perlu dibaca berulang-ulang. Hal seperti itu tentu saja tidak menguntungkan. Dengan kata lain, kalimat-kalimat yang sulit dipahami isinya, tergolong kalimat yang tidak efektif. Bacalah kutipan berikut ini !
(5) Karena dalam kurikulum itu bidang studi bahasa Indonesia mendapat tempat yang teratas berdasarkan alokasi waktu yang disediakan untuk pelajaran bahasa Indonesia, yaitu 8 jam pelajaran seminggu, sedangkan untuk bidang studi yang lain terkisar dari 2 sampai dengan 6 jam seminggu, maka pengajaran bahasa Indonesia dianggap sangat penting dalam rangka mencapai pendidikan nasional berdasarkan Pancasila, yaitu untuk meningkatkan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, kecerdasan, keterampilan, mempertinggi budi pakerti, memperkuat kepribadian, dan mempertebalkan semangat kebangsaan.
Agar mudah dan cepat dipahami serta tidak membosankan pembaca, kalimat panjang pada contoh (5) diatas sebaiknya diuraikan menjadi kalimat-kalimat yang tidak seberapa panjang seperti pada contoh kalimat (3a) dan (4a). Kalimat panjang pada contoh (5) dapat diuraikan menjadi :
(5a) Dalam kurikulum itu bidang studi bahasa Indonesia mendapat tempat teratas, yaitu 8 jam pelajaran seminggu; sedangkan untuk bidang studi yang lain berkisar 2 sampai 6 jam seminggu. Karena itu, pengajaran bahasa Indonesia dianggap penting dalam rangka mencapai pendidikan nasional berdasarkan pancasila, yaitu untuk meningkatkan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, kecerdasan keterampilan, mempertinggi budi pakerti, memperkuat kepribadian, dan mempertebal semangat kebangsaan.
Kalimat-kalimat pendek memang lebih mudah, jelas dan cepat dipahami. Bahkan kadang-kadang lebih kuat mengesan daripada kalimat panjang. Akan tetapi, bila semua kalimat dalam suatu paragraf itu terdiri dari atas kalimat-kalimat pendek, seakan-seakan tidak berhubungan satu dengan yang lain. Dapat dirasakan bahwa penuturan seluruhnya tidak membentuk kesatuan yang padu. Karena itu, keduanya harus dipakai secara berfariasi untuk mencapai efek yang sebesar-besarnya. Dalam karangan ilmiah yang mengemukakan uraian-uraian atau penjelasan-penjelasan secara terinsi, sebaiknya dipakai kalimat panjang; sedangkan dalam kesimpulan-kesimpulan pendapat dipakai kalimat-kalimat pendek.
Dalam karangan cerita, terutama cerita pendek, tepat sekali jika dipakai kalimat-kalimat pendek, kalimat-kalimat tersebut akan tersusun menjadi paragraf naratif. Dialog dengan cerita tepat juga memakai kalimat-kalimat pendek.
Dari uraian diatas dapatlah dipahami manfaat variasi kalimat, khususnya variasi kalimat pendek dan panjang, dan cara memvariasikan. Hanya perlu diingat bahwa variasi itu jangan sampai mengurangi kejelasan isinya. Selain itu, dalam memvariasikan kalimat perlu diingat hubungannya dengan kalimat-kalimat yang lain serta suasana pembicaraan pada umumnya.

9.4 Variasi Berita-Tanya-Perintah
contoh 4 :
(1) Tidak banyak bangsa di dunia ini terutama bangsa-bangsa yang baru merdeka yang beruntung seperti kita. Begitu merdeka, kita sudah memiliki bahasa nasional. Kalau anda melayangkan pandangan anda ke negara-negara tentangga, misalnya India dan Filipina, dapat anda ketahui bahwa kedua negara tersebut sampai sekarang belum memiliki bahasa nasional. India dan Filipina masih menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa resmi. Tentu saja kita tidak cukup hanya berhenti merasa beruntung karena sudah memiliki bahasa nasional.
(1a) Tidak banyak bangsa di dunia ini terutama bangsa-bangsa yang baru merdeka yang beruntung seperti kita. Begitu merdeka, kita sudah memiliki bahasa nasional. Layangkanlah pandangan anda kenegara-negara tetangga kita, misalnya India dan Filipina! Sampai sekarang negara tersebut belum memiliki bahasa nasional, India dan Filipina masih menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa resmi. Cukuplah kita hanya berhenti merasa beruntung karena sudah memiliki bahasa nasional? Tentu saja, tidak !.
Pada contoh paragraf (1) kalimat-kalimatnya berupa kalimat berita, sedangkan pada paragraf (1a) berupa kalimat berita, perintah, perintah dan tanya. Ketiga jenis kalimat tersebut membentuk sebuah paragraf yang bervariasi dengan tujuan mendapatkan kefektifan penuturan. Variasi kalimat seperti pada contoh paragraf (1a) itu disebut variasi kalimat berita-perintah tanya. Perlu diingat bahwa ketiga jenis kalimat tersebut mungkin tidak sekaligus bervariasi dalam sebuah paragraf. Jadi, dalam sebuah paragraf mungkin terdapat variasi berita-tanya atau tanya berita, berita-perintah atau perintah-berita; sedangkan variasi kalimat tanya-perintah atau perintah-tanya jarang sekali digunakan dalam karangan.
Contoh 4:
a. Pemakaian Kalimat Berita
Kalimat berita dipakai untuk menurutkan, memberitahukan, atau mengungkapkan pikiran dan atau perasaan kepada pihak lain. Tanggapan yang diharapkan berupa perhatian dari pembaca. Karangan ilmiah, pernyataan resmi, perundang-undangan, uraian, ulasan, dan sebagainya yang mengungkapkan isi pikiran banyak, biasanya memakai kalimat berita. Perhatikanlah contoh kalimat berikut ini !.
Orang menyangka bahwa anak Jawa tentulah akan pandai berbahasa jawa, anak Perancis akan pandai berbahasa Perancis, anak Belanda akan pandai berbahasa Belandaa, dan anak Inggris akan pandai berbahasa Inggris, seakan-akan kepandaian berbahasa yang dimiliki itu karena keturunan atau warisan. Tetapi, hal yang sebenarnya ialah bahwa meskipun anak keturunan orang Jawa, jika tidak dididik dan dibesarkan dalam keluarga dan lingkungan yang berbahasa Jawa, dia tidak akan pandai berbahasa Jawa. Dia akan pandai berbahasa bahasa yang dipakai dalam keluarga dan lingkungan tempat dia dibesarkan. Kemauan dan desakan untuk memakai suatu bahasa itulah yang menyebabkan seseorang dapat berbahasa suatu bahasa, bukanlah karena keturunan atau warisan.

b. Pemakaian Kalimat Tanya
Kalimat tanya umumnya dipakai menanyakan sesuatu. Tanggapan yang diharapkan beruba jawaban terhadap pertanyaan itu, misalnya :
Apakah fungsi bahasa itu ?
Bahasa apakah yang anda pakai dirumah ?
Pandai berbahasa Inggriskah saudara ?
Kalimat-kalimat tanya diatas memang menghendaki pertanyaan dari pihak lain. Akan tetapi, ada suatu pertanyaan yang tidak menghendaki jawaban, seperti yang terlihat pada contoh yang berikut ini.
(2) Memang, bahasa itu merupakan alat yang paling penting dan vitak dalam kehidupan manusia. Dapatkah kita kira-kirakan bagaimanakah kebudayaan kita dapat kita terima dari nenek moyang kita dan kemudian kita wariskan kepada anak cucu jika tidak memakai bahasa ? adalah ilmu pengetahuan yang disampaikan dan dikembangkan tanpa menggunakan bahasa? Mungkinkah pendidikan seluruhnya digunakan tanpa memakai bahasa ?
Kalimat-kalimat tanya seperti pada contoh diatas tidak menantikan jawaban sebab pembacanya sudah mengetahui jawabannya. Jawaban pertanyaan-pertanyaan di atas yaitu, “tidak!”. Kalimat-kalimat seperti contoh diatas lazim disebut pertanyayan retorik.
Dalam karangan, pertanyaan retorik ini banyak dipakai untuk memvariasikan kalimat. Dengan memakai pertanyaan retorik dalam suatu cerita atau uraian, pembaca seolah-olah diikutsertakan dalam pembicaraan itu. Dia diminta memperhatikan jawaban yang tersirat dalam pertanyaan itu atau jawaban yang akan diberikan oleh penulisnua sendiri.
Kalimat tanya yang bervariasi dengan kalimat berita mungkin terletak pada awal, tengah, atau akhir paragraf. Perhatikanlah contoh berikut ini !
(3) Dalam mengarang perlu berlatihkah kita ? berlatih karang mengarang tidak kurang pentingnya daripada membaca. Kecakapan mengarang merupakan kemahiran dan keterampilan biasa. Semua orang dapat mengarang, asalkan kamu berusaha dan berlatih. Berpengalaman tanpa berlatih, tak mungkin akan menghasilkan kecakapan.
(4) Bagi kita, bangsa Indonesia, merupakan suatu karunia Tuhan. Dengan adanya bahasa Indonesia tidak ada lagi masalah mengenai bahasa nasional. Apakah hal-hal tersebut juga dialami bangsa-bangsa lain, misalkan India, Filipina dan Malaysia? Negara-negara tersebut sampai sekarang belum memiliki bahasa nasional; dan bahasa Inggris tetap digunakan sebagai bahasa resmi.
(5) Bahasa Indonesia terus mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Didalam pertumbuhan dan perkembangannya itu timbullah bentuk-bentuk baru, misalnya : siap tempur, tinggal landas, uji diri, ketidakadilan, ketidakberhasilan, diberlakukan, ketergantungan dan sebagainya sebagai hasil swadaya bahasa. Apakah bentuk-bentuk seperti itu sudah dikenal dalam bahasa Melayu ?
Seperti itu sudah dikenal (3), (4), dan (5) di atas dapat dianggap sebagai kalimat utamanya, sedangkan kalimat-kalimat lainnya sebagai kalimat penjelas.

c. Pemakaian Kalimat Perintah
Kalimat perintah dipakai untuk memerintahkan seseorang supaya melakukan apa yang tersebut dalam perintah itu. Perhatikan contoh-contoh berikut ini !
(6) Sebagai langkah pertama baik kiranya dimulai dengan membaca cerita yang ringan. Pilihlah satu dua karangan para penulis kenamaan! Selain karangan-karangan cerita, bacalah karangan-karangan yang bersifat uraian, ulasan, atau bahasan.
Kalimat perintah pada contoh di atas adalah kalimat perintah biasa yang dapat dihaluskan dengan kata-kata :harap, hendaknya, hendaklah, cobalah, atau silahkan. Dengan demikian, akan terdapat kalimat perintah halus sebagai berikut :
Harap
Hendaknya Anda pilih satu kata karangan para penulis
Hendaklah kenamaan !

Harap
Hendaknya Anda baca karangan-karangan yang bersifat
Hendaklah uraian, ulasan/bahasan!

Untuk menghindari penyebutan pelaku orang kedua (anda, saudara, kalian) dapat dipakai kata kerja bantu di-jadi, dapat dipakai kalimat perintah sebagai berikut :
Harap
Hendaknya Dipilih satu dua karangan para penulis
Hendaklah ternama.

Harap
Hendaknya Dibaca karangan-karangan yang bersifat
Hendaklah uraian, ulasan atau bahasan !
Kalimat perintah halus seperti pada contoh-contoh di atas berubah sifatnya menjadi kalimat permintaan/ harapan. Dalam surat menyurat dapat dijumpai pemakaian kalimat permintaan/ harapan sebagai berikut ini.
Mengingat banyaknya acara dan terbatasnya waktu, diharap Bapak/ saudara hadir pada waktunya !
Mengingat pentingnya acara yang akan dibicarakan diharap tidak diwakilkan !
Kalimat perintah itu mungkin diingkari dengan tujuan agar perintah tersebut tidak dilaksanakan. Kalimat perintah yang diingkari itu biasa disebut kalimat larangan. Cobalah perhatikan contoh berikut ini !
(7) Kalau anda ingin berbahasa Indonesia dengan baik dan benar, anda harus berusaha menghilangkan warna daerah. Janganlah dengan sengaja berbahasa Indonesia dengan logat daerah ! anda harus mengucapkan kata-kata bahasa Indonesia selain itu, janganlah meniru-niru ucapan bahasa asing sehingga terdengar keasing-asingan.
Seperti terlihat pada contoh diatas, untuk melarang dipakai kata ingkar jangan. Tempat kata ingkar jangan biasanya pada awal kalimat. Seperti halnya kalimat perintah, kalimat melarang dapat juga dihaluskan. Dengan demikian, terdapat kalimat melarang halus, seperti yang dibaca pada contoh berikut ini.

Harap
Hendaknya janganlah meniru-niru ucapan bahasa asing !
Hendaklah

10. Penggabungan Kalimat
Contoh 1 :
(1) Bahasa Indonesia adalah bahasa nasional dan berfungsi utama sebagai alat pemersatu bangsa Indonesia.
Bandingkan dengan kalimat :
(1a) Bahasa Indonesia adalah bahasa nasional yang berfungsi utama sebagai alat pemersatu bangsa Indonesia.
Manakah yang tepat ?
Cacatan 1:
a. Kalimat (1) tidak tepat sebab predikatnya tidak sejajar (tidak paralel).
Bandingkanlah kalimat (1) dengan kalimat :
(1b) Bahasa Indonesia adalah bahasa nasional dan bahasa negara (predikatnya sejajar).
(1c) Bahasa Indonesia berkedudukan sebagai bahasa nasional dan berfungsi sebagai alat pemersatu bangsa Indonesia (predikatnya sejajar).
b. Kalimat (1a) merupakan kalimat luas dengan keterangan penjelas (yang berfungsi utama sebagai alat pemersatu bangsa Indonesia) pada predikat (bahasa nasional).
Bandingkanlah kalimat (1a) dengan kalimat berikut ini !
(1d) Bahasa Indonesia, bahasa nasional, berfungsi utama sebagai alat pemersatu bangsa Indonesia.
(1e) Sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia berfungsi utama mempersatukan bangsa Indonesia.
Kalimat (1d) dan (1e) di atas efektif juga, bukan ?
c. Hendaklah diingat bahwa kata dan menghubungkan unsur-unsur yang sama jabatannya, sedangkan kata yang menghubungkan unsur-unsur yang tidak sama jabatannya.

Contoh 2 :
(2) Meskipun umurnya lanjut, tetapi badannya masih kuat.
Bandingkan dengan kalimat :
(2a) Umurnya sudah lanjut, tetapi badannya masih kuat. (2b)
(2b) Meskipun umurnya sudah lanjut, badannya masih kuat.
(2c) Umurnya sudah lanjut. Meskipun demikian, badannya masih kuat.
Manakah yang tepat ?

Cacatan 2 :
a. Kalimat (2) dapat dianggap tidak hemat.
Gabungkan : meskipun ………., tetapi ……., merupakan kontaminasi.
b. Kalimat (2c) merupakan variasi kalimat (2b) dengan mengubah kalimat (2c) menjadi dua buah kalimat yang menggunakan ungkapan penghubung meskipun demikian. Ungkapan penghubung selalu terdapat pada awal kalimat. Perhatikanlah pemakaian kata tetapi/ akan tetapi, sebagai ungkapan penghubung !.
(2d) Tidak sedikit bacaan yang telah tersedia di perpustakaan. Tetapi, tidak semua bacaan itu baik untuk memperkembangkan berbahasa.
(2e) Manusia diizinkan oleh Tuhan memanfaatkan semua isi alam ini untuk keperluan hidupnya. Akan tetapi, tidak diizinkan menyakiti, menyiksa, atau menyia-nyiakannya.
Kata tetapi yang berfungsi sebagai ungkapan penghubung dapat digantikan oleh kata namun. Kata meskipun dipakai sebagai penghubung pada kalimat pengakuan. Tanpa kata demikian atau begitu, kata meskipun tidak pernah dipakai sebagai ungkapan penghubung antara kalimat.
Perhatikan contoh berikut ini !
(2f) Dia ikut bermain juga, meskipun kakinya sakit.
Kakinya sakit. Meskipun demikian, dia ikut bermain juga.
* Kakinya sakit. Meskipun, dia ikut bermain

Contoh 3 :
(4) Dia tidak belajar, melainkan bermain-main.
Bandingkan dengan kalimat :
(3a) Dia tidak belajar, tetapi bermain-main.
Manakah yang tepat ?

Cacatan 3 :
a. Kata melainkan semakna dengan kata tetapi. Berkaitan dengan kalimat ingkar (negatif), kedua kata itu dapat saling menggantikan.
Perhatikan contoh-contoh berikut ini !
(3b) Dia bukan guru, melainkan dokter
(3c) Dia bukan guru, tetapi dokter
(3d) Dia guru, tetapi pandai mengobati orang
(3e) Dia guru, melainkan pandai mengobati orang
Jadi, kata pandai tidak pernah dalam kalimat positif (kalimat 3d dan 3e)
b. Perlu diingat kagi bahwa kata melainkan tepatnya dipakai untuk mempertahankan mengganti.
Perhatikan contoh berikut ini !
(3f) Dia bukan dokter, melainkan guru.
(3g) Dia bukan dokter, melainkan pandai mengobati orang.
(3h) Dia bukan dokter, tetapi pandai mengobati orang.
Pada kalimat (3f) kata guru dapat menggantikan dokter, sedangkan pada kalimat (3g), frase pandai mengobati orang tidak dapat menggantikan kata dokter. Jadi, kalimat (3g) tidak tepat. Sebaliknya, kalimat (3h) memang tepat.
Kata tetapi dapat dipakai untuk mempertentangkan menjelaskan.

Contoh 4 :
(4) Wajah yang molek akan menarik perhatian, sedangkan wajah yang buruk akan membosankan perasaan.
Bandingkan dengan kalimat :
(4a) Wajah yang molek akan menarik perhatian, sebaliknya, wajah yang buruk akan membosankan perasaan.
Manakah yang tepat !

Catatan 4:
Kada sedangkan (sedang) menyatakan pertentangan yang terbatas pada suatu klasifikasi, sedangkan kata sebaliknya menyatakan pertentangan yang benar-benar mengandung kebalikan.
Perhatikan contoh lain berikut ini :
(4b) Imbuhan yang terletak pada awal kata disebut awalan, sedangkan (sedang) imbuhan yang terletak pada akhir disebut akhiran.
(4c) Bahasa yang terpelihara baik-baik, terang, jelas akan disambut dengan sengan hati oleh pembaca sebaliknya, bahasa yang gabas, samar, dan gelap tentu kurang disukai oleh pembaca.

Contoh 5:
karena
sehingga
(5) Dia tidak masuk sekolah ketika ibunya sakit
kalau
Bagaimana jalan pikiran pada kalimat diatas ?

Cacatan 5 :
a. Kata karena menyatakan sebab
b. Kata sehingga menyatakan akibat
c. Kata ketika menyatakan hubungan waktu
d. Kata kalau menyatakan hubungan syarat.

Keempat-empatnya memang mungkin tergantung kepada jalan pikiran yang dimasudkan oleh penulisnya. Perhatikan kalimat-kalimat dibawah ini !
(5a) Untuk karang-mengarang tersedia bahan kata yang cukup banyaknya sehingga kadang-kadang agak sukar memilihnya.
Kata sehingga dapat diganti dengan ungkapan penghubung karena itu akibatnya / maka.
(5b) Menuangkan buah pikiran secara teratur ke dalam karangan sehingga pembaca dapat memahaminya dengan cepat tidaklah mudah
Kata sehingga pada kalimat (5b) (menyatakan tujuan) dapat diganti dengan kata supaya / agar.
(5c) Karena tujuan penelitian ini ingin memperoleh gambaran yang lengkap penguasaan kosa kata murid kelas VI SD, maka kemampuan berbahasa pasif pun akan diteliti juga.
Untuk menghemat, kata maka pada kalimat (5c) tidak perlu dipakai.
(5d) Jika tujuan penulisan sudah jelas, maka anda dapat menentukan bahan penulisan, macamnya, dan luasmua.
Untuk menghemat kata maka pada kalimatm (5d) sebaiknya tidak perlu dipakai.
(5e) Yang disebut kalimat verbal ialah kalimat jika (bila, kalau) predikatnya terdiri atas kata kerja.
Kalimat diatas berupa suatu definisi. Ingatlah bahwa definisi. Ingatlah bahwa definisi tidak boleh menggunakan kata-kata bika, jika, atau di mana.
(5f) Berhubung ibu saya sakit, hari ini saya tidak dapat masuk sekolah.
Kata berhubung pada kalimat (5f) harus diganti dengan kata karena / sebab.
Pemakaian yang tepat ialah berhubung dengan.
Contoh :
(5g) Berhubung dengan kurangnya biaya, pembangunan rumah ini tidak dapat diselasaikan.
Ingatlaj bahwa berhubung dengan selalu diikuti oleh kata benda, sedangkan karena / sebab boleh diikuti kata benda, kata sifat, atau kata kerja.

Contoh 6 :
(6) Acara selanjutnya adalah penjelasan tentang SPP yang mana akan diuraikan oleh Bapak Ketua BP3.
Bandingkan dengan kalimat :
(6a) Acara selanjutnya ialah penjelasan tentang SPP yang akan diuraikan oleh Bapak Ketua BP3.
Manakah yang tepat?

Catatan 6 :
Pemakaian yang mana (Inggris : Which) sebagai kata penghubung dalam bahasa Indonesia sebaiknya dihindari.

Contoh 7 :
(7) Desa Ngadisari (daerah Tengger) di mana kami mengadakan KKN sering dikunjungi wisatawan asing.
Bandingkan dengan kalimat :
(7a) Desa Ngadisari (daerah Tengger) tempat kami mengadakan KKN sering dikunjungi wisatawan asing.

Catatan 7 :
a. Pemakaian kata di mana sebaiknya terjemahan where seperti pada kalimat (7) sebaiknya dihindari dan diganti dengan tepat.
b. Perhatikanlah pemakaian kata di mana pada kalimat-kalimat berikut ini !
(7b) Rumah-rumah di tepi Bengawan Solo di mana rakyatnya sering diserang banjir, harus dipindahkan.
(7c) Rumah-rumah di mana mereka diam tidak memenuhi syarat-syarat kesehatan.
Kata di mana pada kalimat (7b) dapat digantikan dengan yang, sedangkan frase …. di mana mereka diam …… dapat diganti dengan ….. yang didiami mereka ………
Contoh 8 :
(8) Banyak karangan yang baik isinya. Tetapi karena judulnya kurang menarik, kurang mendapat perhatian pembaca.
Bandingkan dengan kalimat :
(8a) Banyak karangan yang baik isinya. Tetapi kurang mendapat perhatian pembaca karena judulnya kurang menarik.

Cacatan 8 :
a. Kalimat (8) dan (8a) dapat dikatakan bervariasi.
b. Perhatikanlah pemakaian kata penghubung berkombinasi berikut ini !
(8b) Kalimat-kalimat yang berurutan biasa memang lebih mudah dipahami.
Tetapi kalau menggunakan urutan biasa akan membosankan juga akhirnya.
(8c) Jalan-jalan itu harus segera diperbaiki. Sebab jika dibiarkan saja akan bertambah parah rusaknya.
(8d) Dalam kenyataan kebahasan, memang pada pengaruh yang tinggi frekuesninya sehingga walaupun tidak sesuai dengan struktur bahasa Indonesia, bentuk-bentuk itu sukar ditolak.
(8c) Jika dua benda erat hubungannya sehingga bila menyebutkan benda yang satu teringat akan benda yang lain, maka kata yang lebih mengena itu sering dipakai untuk menyebut nama benda yang dimaksud
DAFTAR PUSTAKA

Keraf, Gorys. (1998). Komposisi Sebuah Pengantar Kemahiran Bahasa. Flores : Nusa Indah.

Soedjito. (11986). Kalimat Efektif. Bandung : Remadja Karya CV.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: